Warta Pesan SAAT

Renungan : Hamba Tuhan

Posted on: November 2, 2008

Suatu sebutan yang ditujukan kepada sekelompok orang yang ”melayani” TUHAN, istilah hamba TUHAN sendiri digunakan dalam Alkitab khususnya di Perjanjian Baru untuk pertama kali dipakai oleh Maria yang menyebut dirinya sebagai hamba Tuhan (Luk.1:38) sedangkan Paulus menyebut diri atau kepada pelayan Tuhan yang lain sebagai hamba Tuhan ( I Kor 7:22; Kol. 4:7; II Tim 2:24 ); Yakub menyebut dirinya sebagai hamba Allah dan hamba Yesus Kristus (Yak 1:1) sedangkan dalam kitab Wahyu Yohanes menyebut Musa sebagai hamba Allah (Wahyu 15:3).


Istilah ”hamba” sendiri muncul sebanyak 196 kali di Perjanjian Baru, digunakan untuk menyebut pelayan rumah tangga, bawahan, dan para pelayan firman atau mereka yang melayani Tuhan. Di Gereja, istilah hamba Tuhan atau Allah ini sudah demikian umum dipakai untuk para pendeta atau penginjil, secara khusus diakui bahwa para pelayan Tuhan ini adalah orang-orang yang dipanggil untuk melayani Tuhan di Gereja.

Istilah hamba Tuhan sendiri sebenarnya tidaklah terlalu memiliki arti yang sangat mulia, sebab hamba berarti orang yang ”terikat, tunduk” kepada orang yang dia layani, secara khusus sebenarnya hamba tidak memiliki kebebasan secara pribadi untuk dirinya sendiri, apalagi kehormatan untuk dirinya.

Selama seseorang baik sebagai pendeta, atau penginjil masih dapat menyatakan dirinya sebagai seorang ”hamba dari Tuhan” orang tersebut akan disegani, dihormati, dan diberi keistimewaan. Tetapi, jikalau orang tersebut karena tingkah laku, tutur kata, mentalnya, tidak sesuai firman Tuhan, misalnya 10 hukum Allah atau firman Tuhan yang dia sampaikan, jelas orang akan menilainya secara negatif, apalagi dilakukan terus menerus dalam pelayanannya tanpa merasa harus bertobat.

Seseorang yang tidak dapat menyatakan diri sebagai pelaku firman yang taat, setia pada Tuhan, baik dalam tingkah laku, tutur kata, mentalnya, maka pada saat itulah baik dia itu sebagai pendeta atau penginjil telah memisahkan kata hamba Tuhan menjadi hamba dan Tuhan , maka pada saat itu juga dia hanya tinggal menjadi ”hamba”. Bukan ”hamba Tuhan” lagi. Jemaat akan menilai ”hamba” yang seperti itu hanyalah sebagai seorang budak yang tidak punya harga diri, memalukan Gereja yang dilayani. Jemaat terkadang masih memaafkan dan memberikan kesempatan padanya untuk memperbaikan tingkah laku, tutur kata, ataupun mentalnya, namun jika suatu hari kedapatan masih tetap sama ”rusaknya” dengan orang yang belum percaya, maaf, jika memakai kata yang agak kasar, yaitu diusir (dikeluarkan) dari Gereja.

Pelayan Tuhan yaitu para pendeta atau penginjil, mendapatkan kehormatan, disegani sebab masih dipanggil sebagai ”hambanya Tuhan”, tetapi jika kata ini dipisahkan tinggallah kata hamba yang tidak dihormati. Namun Tuhannya tetap dihormati, tetapi dalam banyak kasus Tuhanpun menjadi tercemar karenanya.

Seperti hari ini banyak sekali orang yang menyebut dirinya sebagai hamba Tuhan yang suka melakukan hal-hal yang aneh-aneh, harus diakui para hamba Tuhan memiliki kesempatan yang dapat membuatnya lupa dirinya sebagai seorang ”hamba Tuhan”.


Terkadang kata yang seharusnya tidak diucapkan telah diucapkannya, sedangkan yang seharusnya diucapkan tidak diucapkannya pula, sehingga membuat orang bingung. Bukankah sering SMS digunakan secara salah? Memakai SMS dengan kata-kata yang seharusnya tidak diucapkan kepada isteri atau suami jemaat yang ”lemah” yang perlu konseling. Mengajak atau diajak berkencan. Demikian juga dengan perbuatan-perbuatan yang aneh-aneh, seperti orang yang tidak mengerti etiket saja, ada jemaat yang mengatakan apakah tidak diajar di STT, apakah tidak baca Alkitab. Kaum awam aja mengerti, masakan seorang hamba Tuhan tidak ngerti?


Coba bayangkan, suatu kali seseorang bertanya:”Pak, apakah orang Kristen boleh berdusta? Jelas, tidak boleh kan, selanjutnya dia bertanya, kalau orang yang berdusta boleh nggak memimpin Perjamuan Kudus?”

Kalau hamba yang taat, setia pada firman Tuhan, pastilah dia selalu akan belajar pada Tuannya yakni Yesus Kristus, mengerti akan misi kedatanganNya untuk apa, dan buat apa beribadah serta mengerti kepada siapa Dia melayani.


Para budak (hamba) di zaman Romawi pasti mengalami apa yang disebut jengkel, gondok, ditindas, haknya dikurangi, dijadikan kambing hitam, sasaran kemarahan dan sebagainya. Dan mereka tidak dapat berkata apapun untuk membela dirinya sebab mereka hanyalah seorang budak. Di zaman sekarang ini banyak hamba Tuhan juga mengalami hal yang sama, karena perbuatan dirinya atau karena segelintir pendahulunya, sehingga pada hari ini mengalami berbagai hal yang tidak menyenangkan dalam pelayanannya.


Apakah dalam pelayanan Tuhan Yesus juga mengalaminya hal-hal yang tidak menyenangkan ?? Padahal Tuhan Yesus tidak melakukan kesalahan, tetapi dibenci, disalahkan, diejek bahkan dibunuh, karena apa yang dilakukanNya telah membuat orang Yahudi iri hati, dan marah, sehingga timbullah hati tidak senang padaNya. Banyak orang mencoba memakai ayat ini sebagai penghiburan dan pembelaan diri, tapi ayat ini jangan disalah tafsirkan. ”Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu;”.

Kalau dianiaya karena nama Kristus, pujilah Tuhan, tetapi kalau diusir didepak dari kedudukan, karena kesalahan, jelas itu karena telah memisahkan kata hamba dari Tuhan. Hamba dianiaya adalah hal yang biasa, tetapi kalau hamba Tuhan dianiaya itu baru luar biasa, ini tentu berbeda kalau hamba Tuhan dianiaya karena kesalahannya sendiri.

Selanjutnya Tuhan Yesus berkata:”jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku”. Yoh. 15:20,21.Kalau seorang hamba yang setia, taat melakukan firman Tuhan, jelas hamba tersebut akan mendapatkan kehormatan dari Bapa Sorgawi.Yohanes 12:26 ”Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa”.


Pengajaran Tuhan Yesus mengenai hamba juga dapat dilihat Matius 20:26-28. ”Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”


Apa yang diajarkan Tuhan Yesus mengenai hamba yang melayani dalam ayat-ayat tersebut sudah sangat jelas. Orang yang ingin menjadi besar berarti harus melayani, kalau ingin menjadi terkemuka hendaklah ia menjadi hamba. Orang yang melayani atau yang menjadi hamba adalah pekerjaan seorang ”budak” seorang yang terjual atau sudah dijual sehingga dirinya sendiri tidak memiliki hak atas dirinya sendiri. Kalau hamba yang demikian lalu ingin menjadi besar dengan menggeser teman sepelayanannya apakah tuannya tidak akan menjadi marah?


Pelayan atau hamba Tuhan (Allah) adalah mereka yang telah ditebus dengan harga tunai oleh darah Yesus. (I Pet. 1:18-19) Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. I Kor 6:20;7:23 Paulus berkata:”Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! Dan I Kor 7:23. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia.


Penebusan yang diberikan Tuhan Yesus bukan dengan perak atau emas tetapi dengan darahNya dan harganya telah lunas dibayar olehNya diatas kayu salib. Karena itu Tuhan Yesus sangat mengharapkan agar orang-orang tebussanNya dapat memuliakan Allah dengan tubuhnya dan bukan menjadi hamba manusia tetapi seorang hamba Tuhan (Allah) yang memiliki ketaatan dan kesetiaan pada Tuhan yang disembah dan yang dilayaninya.


Beberapa waktu lalu sekolah-sekolah negeri atau swasta menjadi heboh, sebab menemukan hp yang berisi rekaman adegan dua anak manusia belia yang sedang melakukan hubungan intim. Durasinya tidak panjang, hanya 3 menit 20 sekian detik. Namun sekalipun durasinya pendek tapi dampaknya luar biasa sekali, anak-anak itu disoroti sebagai orang tidak punya moral, mental yang baik, memalukan, lalu dipecat.

Nah, kalau misalnya, hamba Tuhan melakukan hal yang sama dalam durasi yang 3 menit lalu ketahuan dan dikecam oleh gereja, teman-teman, itu adalah sangat wajar. Bukan tidak mau menolong, tetapi dirinya sendiripun akan malu dengan dirinya, lalu bagaimana meminta orang lain menolongnya? Bukankah banyak orang sangat merasa terganggu dengan perbuatannya? Dan siapa yang akan bangga dengan perbuatannya yang memalukan itu? Saat sadar pendosa tersebut berkata: ”tidak ada yang memperdulikan aku!” Orang yang telah ditebus dengan darah yang mahal yaitu darah Kristus, telah lupa akan karya Kristus diatas kayu salib.

Sebenarnya, bukankah ketika kuliah di Alma-Mater perbuatan itu sudah dipelajari sebagai dosa yang dibenci oleh Allah, lalu mengapa lupa dan jatuh kedalam lumpur dosa? Orang yang memisahkan kata hamba dengan Tuhannya, akan dibiarkan oleh Tuhannya. Saat itulah baru terasa betapa gelap dan tertutupnya dunia ini bagi kehidupannya.


Hamba yang melayani adalah seorang budak Tuhan, budak tersebut tidak diharapkan berpenyakit hanya pintar mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga, percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan. Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas orang-orang durhaka]. ( Matius 24:49; I Tim 6:4-5; Kolose 3:5-6)


Berbahagialah mereka yang menjadi hamba yang selalu ingat bahwa dirinya adalah seorang hamba Tuhan dan kata ini tidak boleh dipisahkan menjadi ”hamba” yang tidak ada kaitannya dengan ”Tuhan”. Melayani sebagai hamba Tuhan dengan setia dan taat pada Kebenaran Firman Tuhan adalah hal yang sangat penting di mata Tuhan Yesus.


(Ditulis oleh Pdt. Yusman Liong setelah membaca diskusi dan mendengar beberapa keluhan jemaat dari berbagai tempat.)

About these ads

1 Response to "Renungan : Hamba Tuhan"

Hamba Tuhan, kadang kontradiksi juga, itu sebabnya perlu dukungan doa setiap orang. Sangat disayangkan, kadang semakin lama mengaku menjadi Hamba Tuhan, makin sulit pula diatur. Tinggi hati bisa muncul karena jam terbang pelayanan, gelar yang dimiliki, jabatan yang ada dan besar kecil gereja yang dilayani.. Celakanya yang senior kadang kala menganggap diri menjadi tuan atas junior; dan yang senior selalu mengaggap dirinya benar.

Hamba Tuhan itu bukan malaikat, mereka bisa salah; jemaat harus sadar itu. Jika mau jujur, semua kita termasuk hamba Tuhan itu tidak sempurna; hanya karena anugerahNya saja, maka apa yang dilakukannya belum diketahui orang banyak. Atau mungkin standardnya bagi manusia oke, namun bagi Tuhan hanya dia sendiri dan Tuhan yang tahu.

Dari

Yang mengaku hamba Tuhan, namun sessungguhnya belum mencapai standard itu

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • seniwati: TETAP SEMANGAT ......
  • seniwati: SELAMAT YA PAK... KASIH DAN HIKMAT TUHAN MENYERTAI SENANTIASA SORI BARU TAHU... NIH...
  • yayah Ishak: puji Tuhan sekarang saya dapat informasi almamater dan seputar melalui milis ini. thanks
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: