Warta Pesan SAAT

Kami sampaikan bahwa banyak program yang telah dibuat dari Alumni untuk Alumni yang tidak berjalan dengan baik, karena itu kami pengurus PESANSAAT PUSAT menghimbau seluruh Alumni yang membaca berita ini untuk mendukung program-program ditelah dibuat.

Antara lain, bantuan kepada Alumni didaerah berupa buku-buku teologi, bantuan dana kesehatan, secara khusus penerbitan WARTA PESANSAAT, jika kita tidak tergerak untuk mendukung dalam IURAN yang hanya Rp: 100.000 per tahun. Maka dipastikan akan berdampak banyak program yang akan MACEEET !

Ingat WARTA PESANSAAT, Ingatlah juga akan IURAN Alumni, Jangan lupa akan DANA PEDULI SAAT !!

Untuk Iuran Alumni : No AC 514 014 8921

atas nama Pdt. Andrew Thea dan Ev. Ely Suryana, BCA. Cab. Bandung Trade  Center

Untuk rekening Gerakan Peduli SAAT No AC. BCA.       Cab Bandung Trede  Center  514 014 9022 atas nama Ely Suryana dan Tjhay Suk Hui.

Olce sangat mengharapkan Alumni sekalian tetap memiliki hati yang setia
dalam melayani Tuhan, (Cung Sin). Jangan cau-cau nau-nau, artinya buat ribut
di gereja. Olce memberikan contoh seperti Pdt. Ruth Ang di GKI Tasikmalaya
yang baru emiritus. Disatu tempat melayani Tuhan dengan setia selama 40
tahun.

Suasana pertemuan sangat riang dan semua merasa senang karena masih dapat
bertemu dan melepas rindu pada Olce. Dalam pertemuan Olce hanya
mengekpresikan kesenangannya tampa banyak komentar. Bagi kami pengurus  baik
pusat atau Jabar yang masih merasakan masa Olce sangat berkesan Olce
bagaikan orang tua,  melebihi dosen yang mengajar di kelas. Teladannya,
kegigihannya, hikmatnya dalam membina mental mahasiswa sekalipun hanya
sekilas tetapi meninggalkan kesan yang mendalam.

Klik beberapa potret di bawah ini :

Di depan rumah Olce

Di depan rumah Olce

Foto Bersama dengan Olce

Foto Bersama dengan Olce

Wawancara dengan Olce

Wawancara dengan Olce

Beberapa Alumni dan Olce

Beberapa Alumni dan Olce

Pdt Yusman Liong dan Olce

Pdt Yusman Liong dan Olce

Pdt Tjhay Suk Hui dan Olce

Pdt Tjhay Suk Hui dan Olce

Pdt. Andrew Thea dan Olce

Pdt. Andrew Thea dan Olce

Pdt Jo Lukas dan Olce

Pdt Jo Lukas dan Olce

Senin, 10 Nopember 2008 persekutuan alumni SAAT di Surabaya & sekitarnya berlangsung di Fu Yuan, Restaurant Mex Building.  Acara ini seharusnya berlangsung di malam hari, tetapi terpaksa digeser ke pagi hari.  Akibatnya, tidak banyak alumni yang dapat hadir.  Alumni yang hadir sekitar 25 orang.  Acara ini menghadirkan Charles Honoris, seorang Kristen muda yang menjadi caleg DPR RI dari PAN, dari daerah pemilihan Surabaya dan Sidoarjo. PAN adalah partai yang menggunakan suara mayoritas untuk menentukan siapa calegnya yang melenggang ke Senayan, dan bukan no urut calon.

Dialog berlangsung cukup seru antara alumni dan Charles Honoris.  Pertanyaan berkisar tentang : mengapa memilih PAN di tengah citra partai ini yang kurang baik di mata sebagian orang Kristen, apa dan bagaimana mempersiapkan diri dalam proses pencalegan ini, dan apa yang menjadi targetnya seandainya terpilih sebaai anggota DPR RI.  Profil Charles Honoris bisa di baca dalam tulisan yang dimuat di harian Surya berikut ini.

Chales Honoris

peserta1

Charles Honoris, Dunia Politik Menjadi Impiannya sejak Kecil

Harian Surya, Saturday, 27 September 2008

Dunia politik kekinian memang menyajikan sebuah keunikan. Banyak politisi yang dicibir dan dicerca. Taksedikit yang dibui karena korupsinya terkuak. Namun masih banyak yang mengincarnya demi memperjuangkan sebuahnilai dan idealisme. Semangat itulah yang nampaknya masih menggelora di dada Charles Honoris. Pemuda berusia 24 tahun lulusan

Department of Political Science and Law, International Christian University, Jepang itu justru memberanikan diri melawan arus. Ia mendaftar sebagai caleg DPR RI dari Partai Amanat Nasional (PAN) di Dapil I, Surabaya-Sidoarjo.

“Saya punya prinsip, untuk memperbaiki berbagai kondisi carut-marut yang terjadi di negara ini harus lewat Senayan,” kata Charles, anak kelima dari enam bersaudara ini, Jumat (26/9)

Charles, demikian ia biasa disapa pernah memiliki karier cemerlang di dunia hukum. Ia banyak menangani kasus-kasus hukum utamanya mengenai korporasi, perdagangan dan investasi luar negeri. Namun hasrat pria yang menguasai empat bahasa itu seolah belum terpuaskan sebelum berkiprah pada dunia politik praktis.

“Sejak kecil, saya memang tertarik terjun ke dunia politik. Pendidikan saya tentang hukum dan politik di Jepang mendukung langkah saya masuk dunia ini. Saya percaya terjun di dunia politik bukan pilihan salah,” ujar lelaki asal Jakarta ini.

Charles kecil memang lahir tengah keluarga pengusaha. Namun sejak SMP, ia justru mengambil politik sebagai kegemaran bacaan. Maka, tak heran, ketika Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir memberinya tawaran menjadi caleg, ia langsung menerima meski berada di nomor urut delapan. “Tak ada yang tak mungkin, termasuk di dunia politik,” tegas lelaki berdarah Tionghoa ini.

Untuk mencurahkan pemikirannya terhadap dunia politik, Charles membangun sebuah jejaring maya bertajuk Charles’ Op-Ed Articles. Di sana ia banyak menulis pikiran-pikirannya terhadap dunia politik, baik dalam negeri maupun luar negeri yang ditulisnya saat duduk di bangku kuliah. “ Obama di Amerika bisa memenangkan Pemilu, ini yang menjadi inspirasi bagi saya untuk menyeriusi terjun di dunia politik,” katanya.

Agar keinginannya meraih kursi di Senayan terwujud, Charles sudah menyiapkan segalanya. Mulai dari aksi soal hingga berbagai model pendekatan. “Asal kompetisi ini menjunjung tinggi sportifitas, dan fairplay, saya yakin mampu membantu PAN memenuhi target dua kursi dari Dapil I untuk DPR RI,” tandasnya./IMAM HIDAYAT

Pada hari Senin, 3 Nopember 2008, BPH Alumni SAAT Wilayah Jateng telah
mengadakan Persekutuan Alumni di Kudus. Di dalam gedung pertemuan
lantai III Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Kudus, para alumni
yang datang dari beberapa daerah (Solo, Ambarawa, Semarang, Blora, dan
Kudus sendiri) melakukan kegiatan persekutuan dengan acara khusus
“Curhat Di Antara Sesama Hamba Tuhan” yang dibawakan oleh Pdt. Em.
Charles Christano (mantan Gembala Jemaat GKMI Kudus) dan dipandu oleh
Pdm. Nindyo Sasongko. Acara yang interaktif itu, semacam Talk Show,
membuat peserta merasa betah sehingga tidak terasa kalau waktu telah
menunjukkan pk. 13.30 saatnya untuk makan siang. Setelah makan siang
bersama, giliran Kepala Suku alias Ketua Alumni Jateng, Pdt. Budi
Moeljono Reksosoesilo memberikan beberapa pengumuman. Acara yang
dimulai pk. 10.30 ini berakhir pada pk. 14.30.

Klik gambar untuk memperbesar.

Suatu sebutan yang ditujukan kepada sekelompok orang yang ”melayani” TUHAN, istilah hamba TUHAN sendiri digunakan dalam Alkitab khususnya di Perjanjian Baru untuk pertama kali dipakai oleh Maria yang menyebut dirinya sebagai hamba Tuhan (Luk.1:38) sedangkan Paulus menyebut diri atau kepada pelayan Tuhan yang lain sebagai hamba Tuhan ( I Kor 7:22; Kol. 4:7; II Tim 2:24 ); Yakub menyebut dirinya sebagai hamba Allah dan hamba Yesus Kristus (Yak 1:1) sedangkan dalam kitab Wahyu Yohanes menyebut Musa sebagai hamba Allah (Wahyu 15:3).


Istilah ”hamba” sendiri muncul sebanyak 196 kali di Perjanjian Baru, digunakan untuk menyebut pelayan rumah tangga, bawahan, dan para pelayan firman atau mereka yang melayani Tuhan. Di Gereja, istilah hamba Tuhan atau Allah ini sudah demikian umum dipakai untuk para pendeta atau penginjil, secara khusus diakui bahwa para pelayan Tuhan ini adalah orang-orang yang dipanggil untuk melayani Tuhan di Gereja.

Istilah hamba Tuhan sendiri sebenarnya tidaklah terlalu memiliki arti yang sangat mulia, sebab hamba berarti orang yang ”terikat, tunduk” kepada orang yang dia layani, secara khusus sebenarnya hamba tidak memiliki kebebasan secara pribadi untuk dirinya sendiri, apalagi kehormatan untuk dirinya.

Selama seseorang baik sebagai pendeta, atau penginjil masih dapat menyatakan dirinya sebagai seorang ”hamba dari Tuhan” orang tersebut akan disegani, dihormati, dan diberi keistimewaan. Tetapi, jikalau orang tersebut karena tingkah laku, tutur kata, mentalnya, tidak sesuai firman Tuhan, misalnya 10 hukum Allah atau firman Tuhan yang dia sampaikan, jelas orang akan menilainya secara negatif, apalagi dilakukan terus menerus dalam pelayanannya tanpa merasa harus bertobat.

Seseorang yang tidak dapat menyatakan diri sebagai pelaku firman yang taat, setia pada Tuhan, baik dalam tingkah laku, tutur kata, mentalnya, maka pada saat itulah baik dia itu sebagai pendeta atau penginjil telah memisahkan kata hamba Tuhan menjadi hamba dan Tuhan , maka pada saat itu juga dia hanya tinggal menjadi ”hamba”. Bukan ”hamba Tuhan” lagi. Jemaat akan menilai ”hamba” yang seperti itu hanyalah sebagai seorang budak yang tidak punya harga diri, memalukan Gereja yang dilayani. Jemaat terkadang masih memaafkan dan memberikan kesempatan padanya untuk memperbaikan tingkah laku, tutur kata, ataupun mentalnya, namun jika suatu hari kedapatan masih tetap sama ”rusaknya” dengan orang yang belum percaya, maaf, jika memakai kata yang agak kasar, yaitu diusir (dikeluarkan) dari Gereja.

Pelayan Tuhan yaitu para pendeta atau penginjil, mendapatkan kehormatan, disegani sebab masih dipanggil sebagai ”hambanya Tuhan”, tetapi jika kata ini dipisahkan tinggallah kata hamba yang tidak dihormati. Namun Tuhannya tetap dihormati, tetapi dalam banyak kasus Tuhanpun menjadi tercemar karenanya.

Seperti hari ini banyak sekali orang yang menyebut dirinya sebagai hamba Tuhan yang suka melakukan hal-hal yang aneh-aneh, harus diakui para hamba Tuhan memiliki kesempatan yang dapat membuatnya lupa dirinya sebagai seorang ”hamba Tuhan”.


Terkadang kata yang seharusnya tidak diucapkan telah diucapkannya, sedangkan yang seharusnya diucapkan tidak diucapkannya pula, sehingga membuat orang bingung. Bukankah sering SMS digunakan secara salah? Memakai SMS dengan kata-kata yang seharusnya tidak diucapkan kepada isteri atau suami jemaat yang ”lemah” yang perlu konseling. Mengajak atau diajak berkencan. Demikian juga dengan perbuatan-perbuatan yang aneh-aneh, seperti orang yang tidak mengerti etiket saja, ada jemaat yang mengatakan apakah tidak diajar di STT, apakah tidak baca Alkitab. Kaum awam aja mengerti, masakan seorang hamba Tuhan tidak ngerti?


Coba bayangkan, suatu kali seseorang bertanya:”Pak, apakah orang Kristen boleh berdusta? Jelas, tidak boleh kan, selanjutnya dia bertanya, kalau orang yang berdusta boleh nggak memimpin Perjamuan Kudus?”

Kalau hamba yang taat, setia pada firman Tuhan, pastilah dia selalu akan belajar pada Tuannya yakni Yesus Kristus, mengerti akan misi kedatanganNya untuk apa, dan buat apa beribadah serta mengerti kepada siapa Dia melayani.


Para budak (hamba) di zaman Romawi pasti mengalami apa yang disebut jengkel, gondok, ditindas, haknya dikurangi, dijadikan kambing hitam, sasaran kemarahan dan sebagainya. Dan mereka tidak dapat berkata apapun untuk membela dirinya sebab mereka hanyalah seorang budak. Di zaman sekarang ini banyak hamba Tuhan juga mengalami hal yang sama, karena perbuatan dirinya atau karena segelintir pendahulunya, sehingga pada hari ini mengalami berbagai hal yang tidak menyenangkan dalam pelayanannya.


Apakah dalam pelayanan Tuhan Yesus juga mengalaminya hal-hal yang tidak menyenangkan ?? Padahal Tuhan Yesus tidak melakukan kesalahan, tetapi dibenci, disalahkan, diejek bahkan dibunuh, karena apa yang dilakukanNya telah membuat orang Yahudi iri hati, dan marah, sehingga timbullah hati tidak senang padaNya. Banyak orang mencoba memakai ayat ini sebagai penghiburan dan pembelaan diri, tapi ayat ini jangan disalah tafsirkan. ”Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu;”.

Kalau dianiaya karena nama Kristus, pujilah Tuhan, tetapi kalau diusir didepak dari kedudukan, karena kesalahan, jelas itu karena telah memisahkan kata hamba dari Tuhan. Hamba dianiaya adalah hal yang biasa, tetapi kalau hamba Tuhan dianiaya itu baru luar biasa, ini tentu berbeda kalau hamba Tuhan dianiaya karena kesalahannya sendiri.

Selanjutnya Tuhan Yesus berkata:”jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku”. Yoh. 15:20,21.Kalau seorang hamba yang setia, taat melakukan firman Tuhan, jelas hamba tersebut akan mendapatkan kehormatan dari Bapa Sorgawi.Yohanes 12:26 ”Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa”.


Pengajaran Tuhan Yesus mengenai hamba juga dapat dilihat Matius 20:26-28. ”Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”


Apa yang diajarkan Tuhan Yesus mengenai hamba yang melayani dalam ayat-ayat tersebut sudah sangat jelas. Orang yang ingin menjadi besar berarti harus melayani, kalau ingin menjadi terkemuka hendaklah ia menjadi hamba. Orang yang melayani atau yang menjadi hamba adalah pekerjaan seorang ”budak” seorang yang terjual atau sudah dijual sehingga dirinya sendiri tidak memiliki hak atas dirinya sendiri. Kalau hamba yang demikian lalu ingin menjadi besar dengan menggeser teman sepelayanannya apakah tuannya tidak akan menjadi marah?


Pelayan atau hamba Tuhan (Allah) adalah mereka yang telah ditebus dengan harga tunai oleh darah Yesus. (I Pet. 1:18-19) Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. I Kor 6:20;7:23 Paulus berkata:”Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! Dan I Kor 7:23. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia.


Penebusan yang diberikan Tuhan Yesus bukan dengan perak atau emas tetapi dengan darahNya dan harganya telah lunas dibayar olehNya diatas kayu salib. Karena itu Tuhan Yesus sangat mengharapkan agar orang-orang tebussanNya dapat memuliakan Allah dengan tubuhnya dan bukan menjadi hamba manusia tetapi seorang hamba Tuhan (Allah) yang memiliki ketaatan dan kesetiaan pada Tuhan yang disembah dan yang dilayaninya.


Beberapa waktu lalu sekolah-sekolah negeri atau swasta menjadi heboh, sebab menemukan hp yang berisi rekaman adegan dua anak manusia belia yang sedang melakukan hubungan intim. Durasinya tidak panjang, hanya 3 menit 20 sekian detik. Namun sekalipun durasinya pendek tapi dampaknya luar biasa sekali, anak-anak itu disoroti sebagai orang tidak punya moral, mental yang baik, memalukan, lalu dipecat.

Nah, kalau misalnya, hamba Tuhan melakukan hal yang sama dalam durasi yang 3 menit lalu ketahuan dan dikecam oleh gereja, teman-teman, itu adalah sangat wajar. Bukan tidak mau menolong, tetapi dirinya sendiripun akan malu dengan dirinya, lalu bagaimana meminta orang lain menolongnya? Bukankah banyak orang sangat merasa terganggu dengan perbuatannya? Dan siapa yang akan bangga dengan perbuatannya yang memalukan itu? Saat sadar pendosa tersebut berkata: ”tidak ada yang memperdulikan aku!” Orang yang telah ditebus dengan darah yang mahal yaitu darah Kristus, telah lupa akan karya Kristus diatas kayu salib.

Sebenarnya, bukankah ketika kuliah di Alma-Mater perbuatan itu sudah dipelajari sebagai dosa yang dibenci oleh Allah, lalu mengapa lupa dan jatuh kedalam lumpur dosa? Orang yang memisahkan kata hamba dengan Tuhannya, akan dibiarkan oleh Tuhannya. Saat itulah baru terasa betapa gelap dan tertutupnya dunia ini bagi kehidupannya.


Hamba yang melayani adalah seorang budak Tuhan, budak tersebut tidak diharapkan berpenyakit hanya pintar mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga, percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan. Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas orang-orang durhaka]. ( Matius 24:49; I Tim 6:4-5; Kolose 3:5-6)


Berbahagialah mereka yang menjadi hamba yang selalu ingat bahwa dirinya adalah seorang hamba Tuhan dan kata ini tidak boleh dipisahkan menjadi ”hamba” yang tidak ada kaitannya dengan ”Tuhan”. Melayani sebagai hamba Tuhan dengan setia dan taat pada Kebenaran Firman Tuhan adalah hal yang sangat penting di mata Tuhan Yesus.


(Ditulis oleh Pdt. Yusman Liong setelah membaca diskusi dan mendengar beberapa keluhan jemaat dari berbagai tempat.)

Pada tanggal 22 Mei 2008 yang lalu kami pengurus Persekutuan Alumni Pusat yang terdiri dari ketua Ev. Tjhay Suk Hui, Pdt. Yusman & isteri  dan Pdt. Jo Lukas. Pagi jam 4.00 berangkat ke Jakarta – bandara Sukarno Hatta. Sampai di Pontianak kami dijemput oleh Sdra Ev. Kian Guan dan Ev. Seniman, hari sudah siang, panasnya kota Pontianak luar biasa 34 derajat Celcius. Maklum yang datang itu rombongan kota Bandung yang terkenal sejuk dan tidak pernah begitu panas, bayangin aja, begitu habis mandi keluar, badan sudah penuh keringat. Karena sudah lapar maka kami minta diantar ke Pondok Kakap, tetapi Saudara kita mengantar kami ke kampung Kakap.


Akhirnya ditengah jalan timbul kesadaran bahwa kita dibawa ke kampung bukan ke kota Pontianak. Untung Ev. Seniman baik hati mobil langsung tukar arah menuju Pontianak lagi, dapat dibayangkan siang hari di Pontianak yang panas, lapar, diajak berkeliling  waah luar biasa, begitu masuk pondok Kakap ketemu es teh, es jeruk ……rasanya segeer sekali.


Kemudian kami mencari hotel di jalan Gajahmada, kami ketemu Hotel Piony yang ber AC, sore hari dan malan kami jalan-jalan dikit istilah Malaysianya pusing-pusinglah di kota Pontianak. Kunjungan kali ini sungguh membuat hati Alumni bergembira sekalipun kami hanya ketemu 5 Alumni. Yang penting  kan arti dari perkunjungan yang menjadi berkat itu, kami sampaikan maksud kunjungan dan program Pengurus kepada Alumni dan semoga mereka juga dapat menyampaikan perkunjungan kami kepada yang lainnya.

Kesan kami, wilayah Kal-Bar cukup luas, dari satu ke kota ke kota lainnya cukup jauh jaraknya, yang dalam kota Pontianak saja jarang ketemu apalagi dengan yang luar kota, kalau sudah pelayanan, maka yang diingat hanyalah sibuk dengan jemaatnya Puji Tuhan.


Malam tgl 22 Mei 2008, kami mengadakan persekutuan di Gereja Santapan Rohani Indonesia, dan Alumni yang ada sangat berkesan baik dengan program persekutuan maupun kehadiran pengurus ke Pontianak. Pada kesempatan ini kami ada membawa buku alamat alumni, Alkitab Gideon, buku kotbah Mimbar Gereja, dan hadiah lain untuk alumni. Setelah selesai persekutuan Alumni, kami diundang santap malam oleh seorang jemaat dari Gereja Santapan Rohani Indonesia Pontianak yang di Gembalakan oleh Ev. Suryanti Wirjawan bersama suaminya. Jam 8.30 kami diantar ke terminal bus malam, dengan bus Super Eksekutif Setia Jiwana Sakti kami menuju Kuching Serawak.

Perjalanan ke Malaysia

Perjalanan ditempuh sepanjang malam, kami tiba di perbatasan Indoneia dengan Malaysia, Entikong, tanggal 23 Mei 2008 kurang dari pukul 04.00 pagi. Tanpa terasa kami sudah tiba di Serawak negara tetangga dekat yang masih serumpun. Karena baru jam 04.00 lebih, maka seluruh penumpang turun dan menunggu pukul 05.00 WIB, sedangkan Malaysia pukul 06.00. (Waktu Malaysia berbeda satu jam dengan Indonesia).

Kegiatan kantor Imigrasi Indonesia dan Malaysia diperbatasan dibuka pukul 06 waktu Malaysia sedangkan Indonesia pukul 05.00 pagi. Diperbatasan seluruh penumpang harus melalui pemeriksaan paspor, dan pemberian visa berlangsung cepat dan memuaskan hati kami karena tidak dikenai fiskal yang di daerah lain harus membayar paling sedikit Rp.500.000,00. seperti di Batam.

Sekarang perjalanan di lanjutkan menuju kota Kuching, kami tiba di kota pukul 08.30, oleh karena sewa taxi untuk keliling kota Kuching terlalu mahal, maka kami menunggu di terminal Kuching hingga agak siang barulah kami menuju Bandara Kuching. Kabarnya kota Kuching diberi nama Kuching karena permaisuri Serawak (dulu) senang memelihara kucing, sehingga kota tersebut diberi nama Kuching. Di kota terdapat banyak patung kucing yang besar atau yang kecil, tetapi kucing sendiri tidak terlihat berkeliaran di jalanan kota.


Pukul 14.30 kami dengan pesawat Air Asia menuju kota Kinabalu, mendarat pada pukul 16.30 Waktu Sabah. Di bandara Saudara kita Pdt. William Lo telah menunggu kami, langsung dibawa ke Wisma Basel Christian Church Malaysia, Sabah untuk pemondokan. Malamnya kami diajak untuk dinner bersama Alumni Sabah, yang hadir waktu itu ada 12 orang, Alumni daerah Sabah ( 6 orang) dan pengurus Alumni Pusat (3 orang), (3 orang lagi; isteri Pdt. Yusman, anak Pdt. Marunsai Dawai dan seorang misionari Tiongkok),selesai dinner kami menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan pengurus Alumni pusat di restorant tersebut. Malu juga sebenarnya, sebab setelah kami menyampaikan tentang Gerakan Peduli SAAT, para Alumni dengan sangat rela memberikan Dana Sukarela, demikian juga dengan iuran Alumni.

Tanggal 24 Mei 2008 kami diantar oleh Pdt. Wiliam dan Pastor Rajiman menuju terminal taxi menuju kota Tenom, perjalanan ditempuh lebih kurang 3-4 jam melewati lembah dan pengunungan Sabah, di sepanjang jalan kami melihat banyaknya gereja-gereja Katholik dan BCCM di daerah pedesaan, perkembangan gereja Katholik cukup baik. Jarak rumah yang jauh dari Gereja tidak menghambat iman untuk beribadah kepada Tuhan. Ketika Minggu siang selesai memimpin ibadah dalam perjalanan pulang kami boleh menyaksikan gereja-gereja dipenuhi oleh mobil-mobil jemaat yang diparkir dihalaman gereja. Mereka hadir dengan mobil, bukan dengan angkot.

Dapat dikatakan ”Jarak tidak menjadi penghambat untuk bertemu dengan Allah”, ketika kami berbicara mengenai perkembangan gereja di Sabah, terlihat umat Kristen yang berada di Sabah ingin menunjukan bahwa ”kami orang Kristen bukanlah umat yang minoritas di Sabah”. Karena itu ketika kami melihat di atas bukit terlihat bangunan yang ada salibnya, padahal daerah itu dipenuhi oleh pepohonan dan berada sedikit jauh dari pedesaan. Saudara yang berada di Manado atau Jayapura mungkin dapat membayangkan hal semacam ini, diatas bukit ada bangunan Gereja Tuhan.

Saya bersama Ev. Suk Hui melayani BCCM Tenom tempat Pastor Lucy Kumala bersama suaminya yakni Pastor Wong mengembalakan. Pada kebaktian bahasa Malaysia/ Indonesia yang dipimpin Ev. Tjhay Suk Hui dapat dikatakan hampir 100 an jemaat adalah orang dari Indonesia (para TKI,TKW). Kebaktian bahasa Malayu/Indonesia ini dirintis oleh Pastor Lucy Kumala. Sedangkan Pdt. Jo Lukas melayani di kota Kiningau, jemaatnya ada 300 lebih dan mereka hampir seluruhnya juga berasal dari Indonesia khususnya tanah Toraja. Selesai kebaktian suasana seperti para artis dikerubuti oleh fansnya demikianlah kami, khususnya Pdt. Jo Lukas yang dari Makasar, maka keluarlah bahasa rohnya Makasar ch ch ch ch, untung coto Makasar tidak ada, dih?


Pada Sabtu malam saya sempat melayani kebaktian rumah tangga di keluarga seorang Penatua yang juga ketua Majelis BCCM bahasa Malayu/Indonesia, rumahnya sedikit jauh dari kota Tenom, di desa ”Baru Jumpa”, jalan yang ada adalah jalan setapak, kemudian kami melewati jembatan yang sudah tersambar banjir, sehingga dimalam gelap itu kami melewati sungai dengan jembatan dua potong kayu kasau. Bergoyang itu pasti, ngeri tentu tidak, hanya takut kecemplung ke sungai saja tetapi itu pengalaman yang cukup indah. Karena kami tamu dari Indonesia, tuan rumah dan para jemaat sangat senang menyambut kami, banyak hal yang mereka tanya dan ingin tahu, sebab sebenarnya mereka juga berasal dari Indonesia sebelum Malaysia merdeka.


Setelah selesai persekutuan, kami dijamu dengan berbagai makanan khas Sabah, bukan makan berat tapi di Indonesia kami belum pernah temukan makanan tersebut. Hari ini perjalanan kami cukup melelahkan, siang setelah sampai di Tenom kami langsung dibawa ke Pabrik kopi, kebun raya Tenom, dan malamnya persekutuan rumah tangga, jadi cukup alasan untuk tidur yang nyenyak.

Perjalanan berikutnya adalah menuju ke Sumatera Utara, kota Medan, Pemantang Siantar, Sibolga, Pekan Baru, (Jambi ?) pada tahun 2009. Doakan agar Pengurus Alumni Pusat boleh menjadi berkat . Sampai ketemu.

Ucapan Terimakasih

Kami alumni SAAT yang ada di Sabah sangat berterima kasih atas kunjungan kerja para pengurus SAAT pusat ke Sabah pada 23 – 28 May 2008 yang lalu.Ketua Ev. Tjhay Suk Hui, Pdt. Yusman & ibu (pak Yusman trims ya oleh-olenya) dan Pdt. Jo Lukas. Kunjungan kalian menjadi berkat buat kami disini, dan tahun depan datang lagi ya… sekaligus membantu pelayanan..kotbah, seminar, dll.

Atas nama alumni SAAT di Sabah ; Bishop Thomas Tsen, Ps. Laura, Ps. Lucy Kumala, Ps. Inge Tan, Pdt. Marunsai Dawai, Pdt. Joseph Daang, Ps. Rajiman, Pdt. Lukas Amat,
Pdt. Daniel Taie, Pdt. John Budiman, Ev. Gwendeline Ng, Ps. Petoh & Natalie (China)..
shalommmm…Tuhan memberkati.

Pengurus Pesansaat Wilayah

Pengurus Pesansaat Surabaya. 2008-2010.
Ketua                :  Pdt. Djusianto
Wakil Ketua       :  Pdt. Sucianto Nugroho
Sekretaris         :  Pdt. Wahyu Pramudya
Bendahara         :  Ev. Maria Ti
sa
Sie Acara          :  Pdt. Nathanael Channing (koordinator)
Pdt. Njoo Mei Fang
Bp. Ishak Suhonggo
Pdt. Timotius Wibowo
Ev.  Inge Adriana
Ev. Samuel Soegiarto
Sie Pemerhati    :  Pdt. I. Nyoman Widiantara (koordinator)
Ev. Danny Kurniawan
Ev. Alexander Kanesa
Ev. Lies Veronica
Ev. Henny L. Chandra

Kepengurusan Pesansaat Malang. 2008-2010.

Ketua: Ev. Kay Ang Kuswanto

Wakil Ketua: Ev. Pancha W.Yahya

Sekretaris : Ev. Rohani

Bendahara : Ev. Amy Kho dan Ev. Laura B. Kiolol

Anggota : Ev. Andreas Hauw dan Ev. Elifas Gani

Pengurus Pesansaat Jawa Tengah

Rekan-rekan yang baik, dalam pertemuan alumni SAAT Jateng dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang dihadiri 36 orang , di GIA Pringgading-Semarang, tanggal 7 April lalu, telah ditetapkan kepengurusan alumni SAAT untuk dua wilayah tersebut. Berikut nama-nama para pengurus. Mohon dukungan doa agar kami menjadi alumni yang serius menjadi terang-garam di ladang masing-masing.

Wilayah Jateng 2007-2012

Ketua                                   :  Pdt. Budimoeljono Reksosoesilo

Wakil Ketua                         :  Ev. Simon Petrus Agus Wahyudi

Sekretaris 1                          :  Ev. Lortha Gebyar Mahanani

Sekretaris 2                          :  Ev. Yason Hernadi Kurniawan

Bendahara                            :  Ev. Lisa Kurniawati Santoso

Koordinator

Solo dan Sragen                   :  Pdt. Peter Christianto Wijaya

Semarang dan Ungaran        :  Pdt. Tan Tjiok Tie

DI Jogjakarta                       :  Ev. Andy Setiawan Ko

Kudus dan Jepara                :  Pdm. Nindyo Sasongko

Magelang dan Parakan         :  Pdt. Vonny Samuel

Pekalongan                           :  Pdt. Lukas Kustedjo

Blora dan Cepu                    :  Pdt. Ponco Trihandoko


  • seniwati: TETAP SEMANGAT ......
  • seniwati: SELAMAT YA PAK... KASIH DAN HIKMAT TUHAN MENYERTAI SENANTIASA SORI BARU TAHU... NIH...
  • yayah Ishak: puji Tuhan sekarang saya dapat informasi almamater dan seputar melalui milis ini. thanks
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.