Warta Pesan SAAT

Renungan : Spiritualitas dan Integritas Hamba Tuhan

Posted on: Januari 2, 2008

“Spiritualitas dan Integritas Hamba Tuhan”

Siapakah aku, pada saat seorang pun tidak melihat ku?[1]
Nats: Yer 8: 6a (4-7); Ibr 13: 9b

“Aku telah memperhatikan dan mendengarkan: mereka tidak berkata jujur” (Yer
8: 6a)

Pendahuluan:
Dari sejarah kejatuhan manusia ke dalam dosa nampak, bahwa manusia memiliki
kecenderungan untuk bersembunyi, “…ketika Tuhan Allah berjalan-jalan dalam
taman itu…bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap Tuhan Allah”
(Kej 3: 8). Sejak Adam dan Hawa kebutuhan manusia untuk “menyembunyikan
dirinya ini” merupakan bagian dari kehidupan umat manusia secara universal.

Dalam setiap bidang pekerjaan dan jabatan orang bertanya: “Dimanakah masih
ditemukan kepatutan, kelayakan, kejujuran dan keterbukaan?” Kita seringkali
berusaha untuk memakai kedok, apakah karena hati nurani kita merasa bersalah
atau disebabkan karena keangkuhan dan kebutuhan untuk diakui, sehingga kita
menampilkan diri kita yg bukan diri kita yg sesungguhnya.

Apakah itu dalam bidang ekonomi, politik atau dalam gereja? Apakah seseorang
menduduki suatu jabatan[2] dalam profesi atau institusi, kita harus kembali
mendengarkan seruan:”Bersikaplah jujur dan tunjukkanlah dirimu sebagaimana
kamu yg sesungguhnya!” Untuk ini dibutuhkan keberanian dan kita perlu
bertanya bukan saja ttg kecenderungan, tetapi juga karakter yg merupakan
bagian dari hidup kita.

Apakah karakter itu:”Karakter adalah motivasi batiniah untuk melakukan yg
benar, berapa pun harga yg harus dibayar. Setiap orang di muka bumi ini
memiliki kesempatan yg setara untuk membangun karakternya dng mengembangkan
kualitas-kualitas kejujuran, kesabaran, dan kesetiaan. Bila kita mengambil
keputusan sehari-hari berdasarkan kualitas-kualitas ini, Sdr akan memperoleh
manfaat yg praktis dan sekaligus kekal”[3]

Bagaimana kita bisa memiliki hidup yg asli dan sejati (integritas)?
Bagaimana dengan apa yg kita imani bisa meresap ke dalam hati dan memiliki
tangan dan kaki? Bagaimana pengetahuan kita bisa menjadi pengalaman?
Bukankah banyak yg kita pelajari, tetapi itu tetap tidak pernah menjadi
suatu bagian dari kehidupan pribadi kita yg nampak terasa?

Pernahkah Sdr memperhatikan seorang anak, bagaimana ia menunjukkan
kegembiraan atau kesusahannya, ia menunjukkan apa yg ia alami dalam
dunianya, ia alami dengan sepenuhnya dan tidak ditutup-tutupi. Bukankah
kerinduan untuk memiliki hidup yg otentik, ketulusan hati merupakan suatu
bagian yg sudah ada pada saat kita masih kecil? Apakah kita masih memiliki
iman yg spontan dan dinamis? Kapan kita terakhir menceritakan ttg pengalaman
kita bersama Tuhan, apakah dalam suka maupun duka?

1) Siapakah Sdr pada saat seorang pun tidak melihat Sdr?[4]
Ada pepatah mengatakan:”Ujian karakter yg sebenarnya bukanlah terletak pada
apa yg Anda lakukan di depan umum; tetapi pada apa yg Anda pikirkan ketika
Anda sendirian”[5]

Pertanyaan:”Siapakah Sdr pada saat Sdr sendirian” harus menantang kita
secara kritis, apakah kita sbg pekerja gereja purna waktu atau aktifis,
maupun anggota jemaat biasa. Terlalu mudah untuk hidup suci pada saat-saat
kita berbakti, berada di antara orang banyak dan di hadapan umum. Dan
bukanlah sesuatu yg mudah bersikap ramah dan menahan diri pada saat kita
berada ditengah-tengah keluarga dan bersikap jujur terhadap diri sendiri,
ketika seorang pun tidak melihat kita. Keaslian hidup kita menampakkan
dirinya terutama bukan di atas panggung, melainkan di dalam kehidupan
pribadi kita. Keasliaan kita nampak dalam ketersembunyian hidup kita.
“Pengaruh yg membentuk kehidupan kita adalah seperti gunung es: 10%
kelihatan 90% tidak kelihatan”[6]

“Pembuktian karakter sejati seseorang adalah apa yg akan dia lakukan
seandainya dia tahu bahwa dirinya tidak akan pernah ketahuan” (Baron Thomas
Babington Macaulay)

Mata kita lebih sering tertuju kepada orang banyak, kita harus bertanya
kepada diri kita sendiri:”Bagaimana hidup kita bersama dengan Yesus Kristus,
pada saat tidak seorang pun menjadi penonton? Apakah yg masih nampak atau
tertinggal? Apakah kita hanya berbicara ttg Alkitab dengan orang lain,
sementara kita sendiri tidak lagi membacanya untuk diri kita sendiri? Apakah
kita hanya berdoa dalam persekutuan dan ibadah bersama dan “hanya karena
pelayanan”? Ataukah Sdr juga sendiri berbicara secara pribadi dengan Tuhan
Yesus, Tuhan segala Tuhan, pada saat tidak seorang pun melihat kita?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidaklah harus membuat kita takut atau merasa hati
nurani kita bersalah. Pertanyaan-pertanyaan ini justru ingin memberikan
penjelasan dan ketegasan, apa yg merupakan sumber dari hidup kita ini.
Karena kita mudah tergoda untuk menampilkan diri yg bukan diri kita yg
sesungguhnya, bahkan cenderung mengelabui sesama kita dan diri kita sendiri,
oleh sebab itu kita membutuhkan klarifikasi. Jika keberadaan kita hanya
hidup dari pengakuan dan penerimaan orang lain terhadap kita, maka kita
tidak mungkin menunjukkan hidup yg. otentik, integral apakah itu bagi diri
kita sendiri atau untuk orang lain. “Yang menentukan dalam hidup pelayanan
kita bagaimana kita mengisi waktu-waktu teduh kita, ya justru pada saat
seorang pun tidak melihat kita”(Mt 6: 6:”Tetapi jika engkau berdoa, masuklah
ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yg ada di
tempat tersembunyi”), Adolf Koeberle[7] mencatat lebih lanjut:”Kita hanya
bisa memiliki pengaruh keluar sbg mana kita menampilkan keberadaan kita pada
saat menyendiri”

2) Pembentukan kejujuran melalui kebiasaan: Hanya pada air yang
tenang Allah meletakkan jangkarnya!

Reaksi kita pertama pada saat kita berbicara ttg saat teduh adalah kejenuhan
atau suatu proses rutinitas dari kaum Pietis dan Injili. Yang dimaksud
disini terlebih dahulu bukanlah mengenai “saat teduh”, sesuatu yg. sifatnya
kaku dan rutin, melainkan ttg istirahat, ‘break’ sesaat ditengah-tengah
kesibukan kita, contoh: Maz 46: 11 mengungkapkan apa yg. dimaksud dengan
“saat teduh ini” ada suatu kebiasaan yg kudus.

Pepatah mengatakan:

“Taburkanlah pemikiran Sdr akan menuai tindakan; taburkanlah tindakan, Sdr
akan menuai kebiasaan; taburkanlah kebiasaan akan menuai karakter;
taburkanlah karakter, anda akan menuai tujuan hidup” (Samuel Smiles)

“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!” Secara harafiah dapat kita
terjemahkan:”Berhentilah dan kenalilah, bahwa Akulah Allah!”

Saya kadang-kadang merasakan, bagaimana segala kegiatan rohani, ritual
gerejawi dan ibadah kita berjalan serba otomatis. Kerutinan dapat mematikan
dan menjerumuskan kita kepada pemikiran yg sia-sia dan tidak lagi memiliki
makna. Seringkali jika saya diminta untuk berdoa di hadapan umum, kata-kata
yg keluar begitu saja dengan sendirinya dari mulut saya tanpa berpikir
banyak atau keluar kata-kata yg “klisee”, “bahasa Kanaan”, kata-kata yg.
keluar dari “profesionalisme spiritual” yg. hampir tidak memiliki
penghayatan lagi. Seharusnya kita dapat mengatakan pada diri kita:”Stop dan
berdiam dirilah sejenak!” “Tenangkanlah dirimu!” “Pusatkanlah pikiranmu!”
Kadang-kadang Allah harus memaksa kita untuk berhenti, mungkin melalui
keletihan tubuh kita atau sakit penyakit, supaya jiwa kita sungguh-sungguh
dapat beristirahat sejenak. Justru pada saat itulah merupakan suatu awal
dari kesiapsediaan kita untuk memusatkan pikiran kita kepada sumber hidup
yg. sesungguhnya.

Dalam ketenangan Allah melalui Roh KudusNya menyatakan, siapakah kita
sesungguhnya. Apakah Sdr memiliki dan mengambil waktu untuk berhenti
sejenak? Apakah satu hari di awal tahun? Setengah hari di awal bulan? Satu
sampai dua jam di awal minggu? Mungkin setiap orang memiliki caranya yg
berbeda-beda (Perencanaan jadwal, ,time-out’: Liburan, retreat, minggu
tenang dst). Kedisiplinan rohani yg kita, dimana jiwa kita bisa “begitu
enteng sprt sebatang bulu, cair sprt air, tidak bersalah sprt seorang anak,
tanggap terhadap gerakkan kasih karunia sprt sebuah balon gas” – inilah
kedisiplinan: membiarkan diri digerakkan dan memberikan jawaban kepada kasih
karunia Allah. Kedisiplinan rohani merupakan aktifitas roh, tubuh dan jiwa.
Dari Allah sendiri kita bisa memperolehnya untuk melakukan apa yg kita dari
diri kita sendiri tidak dapat melakukannya”[8]

3) Pembentukan kejujuran melalui mendengar: Jika kita mendengar,
Allah berbicara

“Apakah Allah adalah Allah yg berbicara yg sekali-kali membisu – ataukah
bagi Sdr justru sebaliknya:”Apakah Allah bagi Sdr adalah Allah yg membisu
dan sekali-kali berbicara?”[9] Bagaimana pengalaman Sdr.? Bukankah kita
sbg, pekerja gereja, orang-orang Kristen berdiam diri untuk mendengarkan
suara Allah? Jarang sekali dalam keadaan yg sibuk kita bisa mendengarkan
suara Allah. Juga dalam hal ini Yesus menjadi teladan bagi kita. Dalam
pekerjaan dan pelayananNya selama kurang lebih tiga tahun, Yesus seringkali
mengambil waktuNya di pagi hari atau sepanjang malam Ia berdoa, sebelum Ia
memulai pekerjaanNya di antara orang banyak. Sebelum orang-orang ingin
“memakai” Dia. Apa yg Yesus lakukan?

Mk 1: 35:”Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, ia bangun dan pergi ke
luar. Ia pergi ke tempat yg sunyi dan berdoa di sana.”

Mk 6: 46:”…Ia pergi ke bukit untuk berdoa…”

Lk 6: 12:”Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan
semalam-malaman ia berdoa kepada Allah.” Apa yg terjadi? Yesus pernah
berkata:”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan
sesuatu dari diriNya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya;
sebab apa yg dikerjakan Bapa, itu juga yg dikerjakan Anak” (Yoh 5: 19).

Saya yakin, Yesus melihat Bapa dalam kesendirianNya. Ia membiarkan diriNya
dipenuhi oleh BapaNya, dengan demikian Ia mengetahui bagaimana Ia hidup dan
apa yg harus Ia lakukan, bdg Yoh 5: 30. Ketergantungan Yesus kepada Allah
BapaNya membuat Dia menjadi seorang yg merdeka. Dengan demikian Ia memiliki
kekuatan untuk tidak bergantung kepada apa yg diharapkan oleh orang-orang
dari diriNya. Keterikatan Yesus kepada kehendak BapaNya merupakan
kebebasanNya untuk mengambil keputusan yg akurat pada waktu yg tepat. Pada
suatu saat, ketika Ia baru saja keluar dari kesendirianNya, datanglah Petrus
sprt nya ia menyalahkan Tuhannya sambil berkata:”Semua orang mencari Engkau”,
tetapi Yesus menjawab:”Marilah kita pergi ke tempat lain…”, bdk. Mk 1:
35-37. Hanya orang yg hidup dari ketenangan bersama Allah ia dapat
mengambil keputusan sprt itu.

Berdiam diri bagi Yesus berarti mengenal kehendak BapaNya, Yoh 4: 34:”MakananKu
ialah melakukan kehendak Dia yg mengutus Aku dan menyelesaikan
pekerjaanNya.”

Hidup otentik tidak bisa terlepas dari hidup yg bersumber dari kehadiran
Allah dalam hidup kita. Bagaimana hubungan suami-istri bisa hancur? Karena
tidak adanya komunikasi (salah satu penyebab utama) atau hubungan lagi satu
dengan yg lain. Iman adalah relasi dan bukan terutama keyakinan akan
kebenaran-kebenaran doktrinal.[10]

4) Kejujuran terbukti dalam keseharian: Harus ada jembatan antara
berdiam diri dengan kehidupan sehari-hari

Kita harus mengatakannya dengan terbuka, bahwa berdiam diri di hadapan Allah
secara pribadi belumlah mengatakan segala-galanya ttg apa yg kita peroleh
dan manfaatnya. Kehidupan kita sehari-hari tidak terlepas dari pekerjaan,
hektik dan ketegangan. Hal-hal inilah yg memenuhi kehidupan kita sehari-hari
dan itulah yg merupakan kenyataan dari kehidupan manusia pada umumnya.
Tetapi bagaimana kita bisa memperoleh keseimbangan dlm menghadapi keseharian
dng kehidupan pribadi kita?

Sudah pepatah kuno mengatakan, bahwa perubahan yg terjadi dlm hidup ini
terjadi dari dalam hati dan memancar keluar dirasakan oleh lingkungan, dunia
kita. “Bila ada kebenaran dalam hati, akan ada keindahan dalam karakter,
bila ada keindahan dalam karakter, akan ada keharmonisan dalam keluarga,
bila ada keharmonisan dalam keluarga, akan ada ketertiban dalam bangsa, bila
ada ketertiban di dalam bangsa, akan ada kedamaian di dalam dunia”(Pepatah
Tionghoa).

Bagaimana kita menemukan jembatan di antara saat menyendiri dan keseharian
kita? Mungkin dapat menolong kita, apa yg menjadi renungan kita pada pagi
hari, dapat kita bawa ketengah-tengah kerutinan hidup kita. Mungkin saja
satu ayat yg telah kita baca pada pagi hari, kita berusaha untuk
mengingatnya kembali atau menuliskannya di atas secarik kertas, kartu, tel
genggam dan mungkin bisa mengirimkannya kepada sesama saudara seiman via
SMS/e-mail, supaya kita dapat selalu kembali membaca dan mengingatnya:

“…dan yg merenungkan (bisa diterjemahkan:”mengunyahnya kembali”, “memamah
biak”) Taurat itu siang dan malam” Maz 1: 2b.

Yang saya kagumi, bagaimana Paulus dalam kehidupannya memperhitungkan
dunianya bukan saja melalui apa yg ia lihat, melainkan dunia yg tidak
kelihatan, dalam 2 Kor 4: 18 tertulis:”Sebab kami tidak memperhatikan yg
kelihatan, karena yg kelihatan adalah sementara, sedangkan yg tak kelihatan
adalah kekal.” Paulus adalah seorang yg sangat realistis, terutama dalam hal
iman kepercayaannya. Lihat biografi dari Pls! (Surat Filipi). Setiap saat
Pls memperhitungkan untuk hidup dihadapan Allah dan bersama dengan Allah yg
Hidup, 1.Tim 5: 21:”Dihadapan Allah dan Kristus Yesus dan malaikat-malaikat
pilihanNya kupesankan dengan sungguh kepadamu: Camkanlah petunjuk ini tanpa
prasangka dan bertindaklah dalam segala sesuatu tanpa memihak” Ef 6:12:”Karena
perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan
pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu
dunia yg gelap ini dan melawan roh-roh jahat di udara.”

Dunia yg nampak bagi Pls. bukankah merupakan dunia akhirat yg berada
dibalik semua kenyataan hidupnya, tetapi keduanya saling merangkul. Salah
satu kunci keotentikan dari kehidupan kerohanian kita adalah kehidupan
sehari-hari kita yg berada dlm iman. Hidup yg merupakan suatu kesatuan yg
utuh dan bukan merupakan suatu pemikiran yg terpilah antara yg rohani dan
jasmani. Kita tidak bisa membatasi kenyataan atau kehadiran Allah pada
jam-jam tertentu atau hari-hari tertentu saja. Bukankah Allah kita maha
hadir? “Kemana aku dapat pergi menjauhi rohMu, kemana aku dapat lari dari
hadapanMu? …jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di
ujung laut, juga di sana tanganMu akan menuntun aku…” (Maz 139: 7-12).

Apakah kita berada di antara orang banyak atau dalam kesendirian, secara
terbuka atau pribadi: Allah selalu ada. Jika kita mengerti akan hal ini,
maka kita akan hidup lebih sadar, serasi dan sejati, sehingga kekristenan
kita seimbang dan harmonis dalam memiliki kekudusan yang wajar dan kewajaran
yang kudus.

5) Kejujuran di hadapan masyarakat: Seorang Kristen tidak dapat
dipisahkan dari perannya dalam masyarakat

Rumusan “karakter”:(Yun “karakter”: “menyerut, memotong, mengukir”)
Berkenaan ttg kualitas-kualitas yg menonjol, istimewa, atau baik;
kualitas-kualitas yg dihargai dan dihormati; dan kualitas-kualitas yg ada di
dlm diri seseorang menurut penilaian umum” (Kamus Webster 1828). « Mustahil
menulis persoalan besar tanpa hidup dalam persoalan besar, menjadi pemimpin
yang agung tanpa menjadi manusia agung. Manusia harus menemukan dalam
dirinya sendiri rasa tanggung jawab yang besar terhadap dunia, yang berarti
tanggung jawab yang besar terhadap sesuatu yang lebih besar dari dirinya
sendiri » (Vaclav Havel).

Jika kita menelusuri pengalaman orang-orang beriman dalam Alkitab, mereka
tidak merasa malu mengakui keyakinan dan kepercayaan mereka. Mereka
berbicara ttg hidup mereka bersama Yesus dan bagaimana Yesus memiliki peran
yg utama dalam hidupnya. Lukas menulis dalam Injil Lk dan Kis Ras.:
Kekristenan selalu memiliki karakter sosial dan ramah bermasyarakat.
Disamping penganiayaan yg sidang jemaat alami ada orang-orang yg menghargai
kehadiran mereka:”…dan mereka disukai semua orang”, Kis Ras 2: 47).
Bagaimana tanggung jawab sosial kita di negeri kita tercinta Indonesia? Kita
sbg orang-orang Kristen masih terlalu sedikit melakukannya!

Dalam Alkitab banyak dibicarakan ttg pengakuan dosa dan kelemahan, yg
diungkapkan dan diakui secara terbuka, hal ini justru menunjukkan, betapa
mereka berani terbuka dan transparan untuk membicarakannya. Apa kaitannya
dengan kehidupan kita yg otentik? Jika proses pertumbuhan rohani kita tetap
tersembunyi atau disembunyikan tidak berani mengatakan kepada yg lain, maka
kita cepat atau lambat akan hidup dalam kontradiksi. Sesuatu yg tersembunyi
atau disembunyikan itu, suatu saat akan cenderung menjauhkan kita dari
kenyataan kehidupan manusia yg sesungguhnya, bahkan kita akan kehilangan
realita kehidupan yg seutuhnya, contoh: Zakheus, Semua orang mengetahui akan
pertobatannya, juga konsekuensi logisnya tidak tersembunyi: “Tuhan setengah
dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yg
kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat” bdk. Lk 19: 8.

Mungkin kita telah lama melayani Tuhan Yesus, tetapi orang-orang di sekitar
kita belum pernah merasakan kehadiran kita sbg orang yang dekat dng
Yesus[11] Jika kita kembali memulai untuk menyatakan kehidupan kristiani
dengan transparan dan terbuka, maka hampir selalu ada sesuatu gerakkan yg
terjadi. Biarkan dunia sekitar kita kembali merasakan, kita sbg “garam dan
terang dunia” dan mereka boleh mengetahui kita adalah orang-orang yg hidup
di bawah kasih karunia dan pengampunan dari Allah, 1. Yoh 1: 7.

6) Kejujuran terbentuk di dlm persekutuan: Persekutuan orang-orang
beriman yang memperoleh kasih karunia

Saya yakin, kita semua memulai iman kita dengan kasih karunia, anugerah
Allah, ya, bahkan hanya melalui anugerah, tetapi tidak sedikit dari kita
hari demi hari, semakin lama kita mengenal hidup di antara orang-orang
Kristen, semakin besar pula bahaya kita untuk hidup dari kekuatan sendiri
‘bermoral lebih baik dari pada yg lain’. Kita mengaminkan, bahwa kita
diselamatkan, dibenarkan melalui iman oleh anugerah Allah, tetapi
menguduskan diri melalui pekerjaan dan usaha kemampuan diri sendiri.
(merupakan suatu bahaya rohani)

Justru dalam hal ini persekutuan di antara orang-orang beriman memiliki
peran yg penting. Persekutuan dari orang-orang beriman merupakan suatu
“oase” dan sekaligus “korektor” yg peduli akan arah jalan kehidupan pribadi
kita. Persekutuan orang-orang beriman kepada Yesus Kristus harus merupakan
suatu pemerhati, dimana firman Tuhan harus membentuk hidup kita, dimana kita
bisa saling terbuka dan menceritakan pengalaman kita. Untuk itu diperlukan
kejujuran dan keberanian! Bukankah merupakan sesuatu yg indah, jika tua
dan muda bisa hidup berdampingan, dimana setiap orang tidak perlu merasa
takut, terbuka terhadap satu dengan yg. lain dan saling mendoakan dan
memberkati. Bukankah dengan demikian anugerah Allah itu semakin berlimpah,
dan sungguh-sungguh hati kita kembali dikuatkan bukan melalui ritual
religius kita, melainkan melalui kasih karunia (Ibr 13: 9b).

“Bukan orang sehat yg. memerlukan tabib, tetapi orang sakit” (Mt 9: 12).
Persekutuan merupakan tempat orang-orang berdosa yg. mengetahui dan
mengalami apa itu pengampunan. Persekutuan adalah tempat pengampunan.
Walaupun kita saling mempercayai satu dengan yg lain, kita tidak luput dari
perkataan yg dapat melukai satu sama lain. Kita akan selalu mencoba untuk
menjadi pusat perhatian. Kita tidak bisa menghindari diri dari melukai dan
dilukai. Kita akan selalu kembali berada dalam suatu situasi, dimana
seseorang terluka karena perkataan kita. Oleh sebab itu persekutuan tidak
terlepas dari sesuatu yg disebut “salib” yg membutuhkan usaha yg
terus-menerus untuk saling menerima satu dengan yg lain dan setiap hari baru
untuk saling mengampuni. Jika kita memasuki suatu persekutuan, tanpa mau
belajar untuk saling mengampuni dan saling mengampuni 70×7, maka kita akan
sangat dikecewakan.[12]

Mungkin semua ini bagi Sdr bukanlah sesuatu yg baru dan Sdr. sudah
mengetahuinya. Tetapi justru disinilah letak permasalahannya: Kita
mengetahuinya, tetapi seringkali kita tidak hidup seturut atau jauh dari apa
yang kita ketahui. Mungkin perkataan dari Nouwen ttg hal ini bisa menolong
kita, “Dua hal yang harus Sdr pegang teguh. Yang I:”Allah telah berjanji,
bahwa kamu akan mengalami kasihNya, setelah engkau mencariNya. Dan yang II:
Allah tetap setia akan janjiNya.”[13]

Saya yakin kita tidak bisa melakukannya dengan instan, tetapi tetap sprt yg
Yesus katakan:
“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat;
ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang
mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.
Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta
ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada
anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik
kepada mereka yang meminta kepadaNya” (Mt 7: 7-11).

Refleksi Pribadi: Mitra Allah Yang Otentik

1) Adakah dalam hidup Sdr/i sesuatu yang perlu Sdr/i bukakan dan
mengijinkan Yesus Kristus untuk menjamah dan memulihkannya.

2) Apakah Sdr/i mempunyai seorang yang Sdr/i dapat percayai yang
kepadanya Sdr/i bisa terbuka dan terutama bisa berdoa bersama-sama dengan
Sdr/i?

3) Langkah-langkah apa yang kongkrit yang Sdr/i dapat lakukan setelah
mengikuti sesi ini?

4) Pokok doa apa yang Sdr/i ingin katakan kepada Tuhan Yesus saat ini?
Ambillah waktu sejenak untuk berdoa!

Catatan Kaki

[1]Bdk. Bill Hybels, Honest to God, John Stott, Authentic Christianity dalam
Peter Strauch, Majalah Aufatmen, Ed. 3/98, Cuxhaven, 1989, 15-19.

2″Fit and Proper” = kepatutan dan kelayakan à “dipandang” dan dijadikan
tumpuan harapan banyak orang akan hadirnya pejabat yg dipercaya, punya
komitmen, serta kompeten mengemban tugasnya.” (Lihat Kompas, tgl 24.11.’07).

[3] bdg The Power for True Success, Institute in Basic Life Principles, hal
10.
[4]Ibid. Peter Strauch, 15.
[5]Bdk. Edwin Louis Cole, Maximized Manhood, 147.
[6]Ibid. Edwin Louis Cole, 38.
[7]Ibid. Peter Strauch, 17.
[8] « Leicht wie eine Feder », Jean Pierre de Coussard dlm majalah Aufatmen,
Nr 2/1998, R. Foster
[9] Astrid Eichler, “Der eingesperrte Gott”, Majalah Aufatmen Nr. 3/98, 38.
[10] Teologi merupakan suatu’ habitus practicus’, suatu pengajaran yg
mengacu (harus menuju) kepada suatu praktek iman dan kehidupan , dikutip
dari, “Umkehr in die Zukunft – Reformprogramm des Pietismus,” Brunnen
Verlag, 1975, hal 69.

[11] Gregor Nazian:”Oration Basillii erat tonitru, quia vita ejus fulgur –
Perkataan dan pengajaran Basillii memiliki (kuasa, kekuatan) sprt gemuruh,
karena hidupnya bagaikan halilintar , Ibid, 1975, hal 68.

[12] Jean Vanier, In Gemeinschaft Leben, R. Brockhaus Verlag Wuppertal,
1993, 59.

[13] Henri J.M. Nouwen, Die innere Stimme der Liebe, Herder Verlag, 5.
Aufl., 1998, 27.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • seniwati: TETAP SEMANGAT ......
  • seniwati: SELAMAT YA PAK... KASIH DAN HIKMAT TUHAN MENYERTAI SENANTIASA SORI BARU TAHU... NIH...
  • yayah Ishak: puji Tuhan sekarang saya dapat informasi almamater dan seputar melalui milis ini. thanks
%d blogger menyukai ini: