Warta Pesan SAAT

Kunjungan Pengurus ke Pontianak dan Sabah

Posted on: November 2, 2008

Pada tanggal 22 Mei 2008 yang lalu kami pengurus Persekutuan Alumni Pusat yang terdiri dari ketua Ev. Tjhay Suk Hui, Pdt. Yusman & isteri  dan Pdt. Jo Lukas. Pagi jam 4.00 berangkat ke Jakarta – bandara Sukarno Hatta. Sampai di Pontianak kami dijemput oleh Sdra Ev. Kian Guan dan Ev. Seniman, hari sudah siang, panasnya kota Pontianak luar biasa 34 derajat Celcius. Maklum yang datang itu rombongan kota Bandung yang terkenal sejuk dan tidak pernah begitu panas, bayangin aja, begitu habis mandi keluar, badan sudah penuh keringat. Karena sudah lapar maka kami minta diantar ke Pondok Kakap, tetapi Saudara kita mengantar kami ke kampung Kakap.


Akhirnya ditengah jalan timbul kesadaran bahwa kita dibawa ke kampung bukan ke kota Pontianak. Untung Ev. Seniman baik hati mobil langsung tukar arah menuju Pontianak lagi, dapat dibayangkan siang hari di Pontianak yang panas, lapar, diajak berkeliling  waah luar biasa, begitu masuk pondok Kakap ketemu es teh, es jeruk ……rasanya segeer sekali.


Kemudian kami mencari hotel di jalan Gajahmada, kami ketemu Hotel Piony yang ber AC, sore hari dan malan kami jalan-jalan dikit istilah Malaysianya pusing-pusinglah di kota Pontianak. Kunjungan kali ini sungguh membuat hati Alumni bergembira sekalipun kami hanya ketemu 5 Alumni. Yang penting  kan arti dari perkunjungan yang menjadi berkat itu, kami sampaikan maksud kunjungan dan program Pengurus kepada Alumni dan semoga mereka juga dapat menyampaikan perkunjungan kami kepada yang lainnya.

Kesan kami, wilayah Kal-Bar cukup luas, dari satu ke kota ke kota lainnya cukup jauh jaraknya, yang dalam kota Pontianak saja jarang ketemu apalagi dengan yang luar kota, kalau sudah pelayanan, maka yang diingat hanyalah sibuk dengan jemaatnya Puji Tuhan.


Malam tgl 22 Mei 2008, kami mengadakan persekutuan di Gereja Santapan Rohani Indonesia, dan Alumni yang ada sangat berkesan baik dengan program persekutuan maupun kehadiran pengurus ke Pontianak. Pada kesempatan ini kami ada membawa buku alamat alumni, Alkitab Gideon, buku kotbah Mimbar Gereja, dan hadiah lain untuk alumni. Setelah selesai persekutuan Alumni, kami diundang santap malam oleh seorang jemaat dari Gereja Santapan Rohani Indonesia Pontianak yang di Gembalakan oleh Ev. Suryanti Wirjawan bersama suaminya. Jam 8.30 kami diantar ke terminal bus malam, dengan bus Super Eksekutif Setia Jiwana Sakti kami menuju Kuching Serawak.

Perjalanan ke Malaysia

Perjalanan ditempuh sepanjang malam, kami tiba di perbatasan Indoneia dengan Malaysia, Entikong, tanggal 23 Mei 2008 kurang dari pukul 04.00 pagi. Tanpa terasa kami sudah tiba di Serawak negara tetangga dekat yang masih serumpun. Karena baru jam 04.00 lebih, maka seluruh penumpang turun dan menunggu pukul 05.00 WIB, sedangkan Malaysia pukul 06.00. (Waktu Malaysia berbeda satu jam dengan Indonesia).

Kegiatan kantor Imigrasi Indonesia dan Malaysia diperbatasan dibuka pukul 06 waktu Malaysia sedangkan Indonesia pukul 05.00 pagi. Diperbatasan seluruh penumpang harus melalui pemeriksaan paspor, dan pemberian visa berlangsung cepat dan memuaskan hati kami karena tidak dikenai fiskal yang di daerah lain harus membayar paling sedikit Rp.500.000,00. seperti di Batam.

Sekarang perjalanan di lanjutkan menuju kota Kuching, kami tiba di kota pukul 08.30, oleh karena sewa taxi untuk keliling kota Kuching terlalu mahal, maka kami menunggu di terminal Kuching hingga agak siang barulah kami menuju Bandara Kuching. Kabarnya kota Kuching diberi nama Kuching karena permaisuri Serawak (dulu) senang memelihara kucing, sehingga kota tersebut diberi nama Kuching. Di kota terdapat banyak patung kucing yang besar atau yang kecil, tetapi kucing sendiri tidak terlihat berkeliaran di jalanan kota.


Pukul 14.30 kami dengan pesawat Air Asia menuju kota Kinabalu, mendarat pada pukul 16.30 Waktu Sabah. Di bandara Saudara kita Pdt. William Lo telah menunggu kami, langsung dibawa ke Wisma Basel Christian Church Malaysia, Sabah untuk pemondokan. Malamnya kami diajak untuk dinner bersama Alumni Sabah, yang hadir waktu itu ada 12 orang, Alumni daerah Sabah ( 6 orang) dan pengurus Alumni Pusat (3 orang), (3 orang lagi; isteri Pdt. Yusman, anak Pdt. Marunsai Dawai dan seorang misionari Tiongkok),selesai dinner kami menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan pengurus Alumni pusat di restorant tersebut. Malu juga sebenarnya, sebab setelah kami menyampaikan tentang Gerakan Peduli SAAT, para Alumni dengan sangat rela memberikan Dana Sukarela, demikian juga dengan iuran Alumni.

Tanggal 24 Mei 2008 kami diantar oleh Pdt. Wiliam dan Pastor Rajiman menuju terminal taxi menuju kota Tenom, perjalanan ditempuh lebih kurang 3-4 jam melewati lembah dan pengunungan Sabah, di sepanjang jalan kami melihat banyaknya gereja-gereja Katholik dan BCCM di daerah pedesaan, perkembangan gereja Katholik cukup baik. Jarak rumah yang jauh dari Gereja tidak menghambat iman untuk beribadah kepada Tuhan. Ketika Minggu siang selesai memimpin ibadah dalam perjalanan pulang kami boleh menyaksikan gereja-gereja dipenuhi oleh mobil-mobil jemaat yang diparkir dihalaman gereja. Mereka hadir dengan mobil, bukan dengan angkot.

Dapat dikatakan ”Jarak tidak menjadi penghambat untuk bertemu dengan Allah”, ketika kami berbicara mengenai perkembangan gereja di Sabah, terlihat umat Kristen yang berada di Sabah ingin menunjukan bahwa ”kami orang Kristen bukanlah umat yang minoritas di Sabah”. Karena itu ketika kami melihat di atas bukit terlihat bangunan yang ada salibnya, padahal daerah itu dipenuhi oleh pepohonan dan berada sedikit jauh dari pedesaan. Saudara yang berada di Manado atau Jayapura mungkin dapat membayangkan hal semacam ini, diatas bukit ada bangunan Gereja Tuhan.

Saya bersama Ev. Suk Hui melayani BCCM Tenom tempat Pastor Lucy Kumala bersama suaminya yakni Pastor Wong mengembalakan. Pada kebaktian bahasa Malaysia/ Indonesia yang dipimpin Ev. Tjhay Suk Hui dapat dikatakan hampir 100 an jemaat adalah orang dari Indonesia (para TKI,TKW). Kebaktian bahasa Malayu/Indonesia ini dirintis oleh Pastor Lucy Kumala. Sedangkan Pdt. Jo Lukas melayani di kota Kiningau, jemaatnya ada 300 lebih dan mereka hampir seluruhnya juga berasal dari Indonesia khususnya tanah Toraja. Selesai kebaktian suasana seperti para artis dikerubuti oleh fansnya demikianlah kami, khususnya Pdt. Jo Lukas yang dari Makasar, maka keluarlah bahasa rohnya Makasar ch ch ch ch, untung coto Makasar tidak ada, dih?


Pada Sabtu malam saya sempat melayani kebaktian rumah tangga di keluarga seorang Penatua yang juga ketua Majelis BCCM bahasa Malayu/Indonesia, rumahnya sedikit jauh dari kota Tenom, di desa ”Baru Jumpa”, jalan yang ada adalah jalan setapak, kemudian kami melewati jembatan yang sudah tersambar banjir, sehingga dimalam gelap itu kami melewati sungai dengan jembatan dua potong kayu kasau. Bergoyang itu pasti, ngeri tentu tidak, hanya takut kecemplung ke sungai saja tetapi itu pengalaman yang cukup indah. Karena kami tamu dari Indonesia, tuan rumah dan para jemaat sangat senang menyambut kami, banyak hal yang mereka tanya dan ingin tahu, sebab sebenarnya mereka juga berasal dari Indonesia sebelum Malaysia merdeka.


Setelah selesai persekutuan, kami dijamu dengan berbagai makanan khas Sabah, bukan makan berat tapi di Indonesia kami belum pernah temukan makanan tersebut. Hari ini perjalanan kami cukup melelahkan, siang setelah sampai di Tenom kami langsung dibawa ke Pabrik kopi, kebun raya Tenom, dan malamnya persekutuan rumah tangga, jadi cukup alasan untuk tidur yang nyenyak.

Perjalanan berikutnya adalah menuju ke Sumatera Utara, kota Medan, Pemantang Siantar, Sibolga, Pekan Baru, (Jambi ?) pada tahun 2009. Doakan agar Pengurus Alumni Pusat boleh menjadi berkat . Sampai ketemu.

Ucapan Terimakasih

Kami alumni SAAT yang ada di Sabah sangat berterima kasih atas kunjungan kerja para pengurus SAAT pusat ke Sabah pada 23 – 28 May 2008 yang lalu.Ketua Ev. Tjhay Suk Hui, Pdt. Yusman & ibu (pak Yusman trims ya oleh-olenya) dan Pdt. Jo Lukas. Kunjungan kalian menjadi berkat buat kami disini, dan tahun depan datang lagi ya… sekaligus membantu pelayanan..kotbah, seminar, dll.

Atas nama alumni SAAT di Sabah ; Bishop Thomas Tsen, Ps. Laura, Ps. Lucy Kumala, Ps. Inge Tan, Pdt. Marunsai Dawai, Pdt. Joseph Daang, Ps. Rajiman, Pdt. Lukas Amat,
Pdt. Daniel Taie, Pdt. John Budiman, Ev. Gwendeline Ng, Ps. Petoh & Natalie (China)..
shalommmm…Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • seniwati: TETAP SEMANGAT ......
  • seniwati: SELAMAT YA PAK... KASIH DAN HIKMAT TUHAN MENYERTAI SENANTIASA SORI BARU TAHU... NIH...
  • yayah Ishak: puji Tuhan sekarang saya dapat informasi almamater dan seputar melalui milis ini. thanks
%d blogger menyukai ini: