Warta Pesan SAAT

Archive for the ‘Renungan’ Category

KEMULIAAN DAN DAMAI SEJAHTERA

oleh : Pdt. Albert Konaniah, D.Min.

(Rektor Kehormatan ; Dosen Teologi Sistematika & Misiologi di Seminari Alkitab Asia Tenggara—SAAT Malang ; Doctor of Ministry lulusan Reformed Theological Seminary, USA)

Pada malam ketika Tuhan Yesus dilahirkan, para malaikat dan bala tentara surga memuji Allah dan berkata, “KEMULIAAN BAGI ALLAH DI TEMPAT YANG MAHA TINGGI DAN DAMAI SEJAHTERA DI BUMI DI ANTARA MANUSIA YANG BERKENAN KEPADANYA” (Lukas 2:14). Betapa sederhananya kedua kalimat pujian tersebut, namun di dalamnya terkandung dua pemberitaan penting, yakni: KEMULIAAN dan DAMAI SEJAHTERA. Berita pertama berkenaan dengan yang berada di tempat yang mahatinggi dan berita kedua berkenaan dengan yang berada di bumi. Di tempat yang mahatinggi ada KEMULIAAN dan di bumi ada DAMAI SEJAHTERA. KEMULIAAN dan DAMAI SEJAHTERA saling berkaitan erat, tetapi urutannya terlebih dahulu harus ada KEMULIAAN di tempat yang mahatinggi, barulah kemudian ada DAMAI SEJAHTERA di bumi. Jika kita terlebih dahulu mengutamakan KEMULIAAN di surga, barulah kita bisa mendapatkan DAMAI SEJAHTERA Allah di bumi.

I.            Malaikat Allah memproklamasikan, “KEMULIAAN BAGI ALLAH DI TEMPAT YANG MAHATINGGI” — Walaupun Tuhan Yesus dilahirkan di dalam palungan yang hina, namun kelahiran tersebut memuliakan Allah.

1.            Ia dilahirkan oleh seorang anak dara, hal ini membuktikan kesejatian nubuat para nabi Allah.

Kira-kira tujuh ratus tahun sebelum kelahiran Tuhan Yesus, Allah bernubuat melalui nabi Yesaya, “Seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Immanuel” (Yes. 7:14). Kelahiran dari seorang anak dara adalah peristiwa yang ajaib di dunia ini. Selain dari anak dara Maria yang mengandung dari Roh Kudus dan melahirkan Tuhan Yesus, sepanjang sejarah umat manusia tidak pernah terjadi peristiwa yang sama ini sebab hal ini adalah peristiwa yang bertentangan dengan hukum alam. Jikalau bukan Allah sendiri yang memberikan janji itu dan menggenapi-Nya, mustahillah peristiwa ini akan terjadi. Tuhan Yesus dilahirkan dari anak dara mutlak bukanlah perbuatan manusia, mutlak bukan suatu kisah dongeng karena ada fakta sejarah. Dan hal ini merupakan perbuatan kuat kuasa Allah yang melampaui sejarah dan alam. Dengan demikian, bukankah sudah sepantasnya KEMULIAAN diberikan kepada Allah di tempat yang mahatinggi?

2.            Kelahiran Tuhan Yesus membuktikan besarnya kasih Allah kepada umat manusia.

Ketika nabi Yesaya bernubuat, “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan kepada kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasehat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaan-Nya, karena Ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya” (Yes. 9:5-6).

Orang Israel yang merindukan kedatangan Mesias ingin menyaksikan kedatangan-Nya di antara mereka karena Dialah yang akan mengadakan penyelamatan besar bagi mereka. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa Mesias ini — Tuhan Yesus yang begitu hina dan papa dilahirkan dalam palungan. Palungan yang kotor bagaimana dapat diserasikan dengan Allah yang Perkasa, Bapa yang kekal? “Ia yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Fil. 2:6-7). Kesungguhan kenosis-Nya (pengosongan Diri-Nya) itulah yang menunjukkan hormat dan kemuliaan-Nya. Pemazmur berkata, “Aku hendak bersyukur sangat kepada Tuhan dengan mulutku, dan aku hendak memuji-muji Dia di tengah-tengah orang banyak. Sebab Ia berdiri di sebelah kanan orang miskin untuk menyelamatkannya dari orang-orang yang menghukumnya” (Maz. 109:30-31).

II. Malaikat Allah juga memproklamirkan, “DAMAI SEJAHTERA DI BUMI DI ANTARA MANUSIA YANG BERKENAN KEPADANYA.”

Sebenarnya, kelahiran Tuhan Yesus tidak mengakibatkan DAMAI SEJAHTERA bagi bumi; kelahiran-Nya malah mengakibatkan kecemburuan serta ketidaktenangan hati raja, sehingga mendatangkan terjadinya pembunuhan kanak-kanak di bawah usia dua tahun di seluruh tanah Yudea. Ketika Ia mulai menjalankan pelayanan-Nya di bumi ini, tidak ada sambutan yang baik dari manusia, Ia ditolak bahkan timbul pula perpecahan di bumi ini karena Dia. Tuhan Yesus sendiri bersabda, “Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai dari sekarang, akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga” (Luk. 12:51-53; Mat. 10:34-36). Jika demikian, mengapa malaikat berkata “DAMAI SEJAHTERA di bumi bagi manusia yang berkenan kepada-Nya”? DAMAI SEJAHTERA macam apakah yang dimaksudkan malaikat Allah itu?

1.            DAMAI SEJAHTERA yang didatangkan karena berdamai dengan Allah.

Jikalau manusia tidak mengenal Allah, ia tidak akan memiliki DAMAI SEJAHTERA, sebab pemazmur berkata, “Sungguh, kami habis lenyap karena murka-Mu, dan karena kehangatan amarah-Mu kami terkejut. Engkau menaruh kesalahan kami dihadapan-Mu, dan dosa kami yang tersembunyi dalam cahaya wajah-Mu” (Maz. 90:7-8). Sebab itu, jika manusia ingin mendapatkan DAMAI SEJAHTERA, ia harus terlebih dahulu berdamai dengan Allah, — yakni Sumber DAMAI SEJAHTERA itu. Namun, oleh karena Allah adalah kudus dan adil, sedangkan manusia adalah berdosa, bagaimanakah orang berdosa dapat mendekatkan diri dengan Allah yang kudus? Rasul Paulus berkata, “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rom. 5:1). Karena di atas kayu salib, Tuhan Yesus telah menjadi Korban penebusan dosa bagi kita sehingga orang yang percaya kepada-Nya, dosanya diampuni serta diperdamaikan dengan Allah. Kesukacitaan dan DAMAI SEJAHTERA yang diberikan karena pembenaran oleh iman ini tidak lain adalah DAMAI SEJAHTERA yang dibawa Tuhan Yesus melalui kelahiran-Nya.

2.            DAMAI SEJAHTERA di dalam Kristus.

DAMAI SEJAHTERA yang kita peroleh karena berdamai dengan Allah ini, juga adalah DAMAI SEJAHTERA karena jiwa kita diselamatkan oleh Tuhan, juga merupakan DAMAI SEJAHTERA dalam kehidupan kita. Namun, manusia berada di tengah pergolakan dunia, di mana perubahan politik dan ekonomi sangat tidak menentu, beban kehidupan yang semakin berat, serta penantian masa depan yang masih merupakan tanda tanya bagi kita. Kesemuanya ini mengakibatkan banyak orang Kristen kehilangan DAMAI SEJAHTERA dan kesukacitaan dalam hati. Tuhan Yesus bersabda, “DAMAI SEJAHTERA-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu” (Yoh. 14:27). Maka bagaimana pun besarnya bahaya dan pergolakan bumi, betapa pun besarnya penderitaan, kesemuanya ini tidak mampu mengguncangkan hati kita. Jikalau kita berada dalam Kristus, kita memiliki DAMAI SEJAHTERA Tuhan, dan DAMAI SEJAHTERA ini tidak dapat direbut oleh dunia ini, bahkan DAMAI SEJAHTERA ini akan membawa kita untuk mengalahkan dunia.

Rasul Paulus berkata, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. DAMAI SEJAHTERA Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Fil. 4:6-7). Hendaklah orang Kristen belajar bagaimana mendapatkan DAMAI SEJAHTERA dalam Kristus. Bukan saja menyerahkan hidup kita ke dalam tangan-Nya, juga belajar untuk tidak kuatir, belajar untuk menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, melalui doa dan ucapan syukur menyatakan segala sesuatu kepada Tuhan; dengan yakin bersandar sepenuhnya kepada-Nya. Dengan demikian, hati dan pikiran kita akan beroleh perlindungan Tuhan dan DAMAI SEJAHTERA yang sempurna kita miliki. Keadaan boleh berubah-ubah, tetapi hati kita tidak akan bimbang dan gelisah karena DAMAI SEJAHTERA telah dikaruniakan Tuhan kepada orang yang berkenan kepada-Nya.

Dewasa ini, dunia dipenuhi oleh ketidakpercayaan dan kedurhakaan kepada Tuhan, hati manusia jauh dari Allah, mereka menyembah kepada kesia-siaan, meninggikan diri, serta menyangkal keberadaan Allah. Apa yang kita saksikan dengan mata, dan yang kita dengar melalui telinga; semuanya adalah kisah penipuan, kekejaman, kecongkakan, kepalsuan, kebobrokan, dan kejahatan manusia semata-mata. Menghadapi semua fakta ini, apa yang sudah dilakukan oleh anak-anak Allah di dunia ini? Semoga peringatan hari Natal — hari kelahiran Tuhan Yesus — menggemakan pemberitaan serta puji-pujian yang sama seperti yang dinyanyikan para malaikat dan bala tentara surga tersebut, yakni “KEMULIAAN BAGI ALLAH DI TEMPAT YANG MAHATINGGI, DAN DAMAI SEJAHTERA DI BUMI DI ANTARA MANUSIA YANG BERKENAN KEPADA-NYA.

Diambil dan disunting seperlunya dari :

Judul bulletin           :           Berita SAAT 1998

Judul artikel              :           Kemuliaan dan Damai Sejahtera

Penulis                       :           Pdt. Albert Konaniah

Halaman                    :           1 – 2

Suatu sebutan yang ditujukan kepada sekelompok orang yang ”melayani” TUHAN, istilah hamba TUHAN sendiri digunakan dalam Alkitab khususnya di Perjanjian Baru untuk pertama kali dipakai oleh Maria yang menyebut dirinya sebagai hamba Tuhan (Luk.1:38) sedangkan Paulus menyebut diri atau kepada pelayan Tuhan yang lain sebagai hamba Tuhan ( I Kor 7:22; Kol. 4:7; II Tim 2:24 ); Yakub menyebut dirinya sebagai hamba Allah dan hamba Yesus Kristus (Yak 1:1) sedangkan dalam kitab Wahyu Yohanes menyebut Musa sebagai hamba Allah (Wahyu 15:3).


Istilah ”hamba” sendiri muncul sebanyak 196 kali di Perjanjian Baru, digunakan untuk menyebut pelayan rumah tangga, bawahan, dan para pelayan firman atau mereka yang melayani Tuhan. Di Gereja, istilah hamba Tuhan atau Allah ini sudah demikian umum dipakai untuk para pendeta atau penginjil, secara khusus diakui bahwa para pelayan Tuhan ini adalah orang-orang yang dipanggil untuk melayani Tuhan di Gereja.

Istilah hamba Tuhan sendiri sebenarnya tidaklah terlalu memiliki arti yang sangat mulia, sebab hamba berarti orang yang ”terikat, tunduk” kepada orang yang dia layani, secara khusus sebenarnya hamba tidak memiliki kebebasan secara pribadi untuk dirinya sendiri, apalagi kehormatan untuk dirinya.

Selama seseorang baik sebagai pendeta, atau penginjil masih dapat menyatakan dirinya sebagai seorang ”hamba dari Tuhan” orang tersebut akan disegani, dihormati, dan diberi keistimewaan. Tetapi, jikalau orang tersebut karena tingkah laku, tutur kata, mentalnya, tidak sesuai firman Tuhan, misalnya 10 hukum Allah atau firman Tuhan yang dia sampaikan, jelas orang akan menilainya secara negatif, apalagi dilakukan terus menerus dalam pelayanannya tanpa merasa harus bertobat.

Seseorang yang tidak dapat menyatakan diri sebagai pelaku firman yang taat, setia pada Tuhan, baik dalam tingkah laku, tutur kata, mentalnya, maka pada saat itulah baik dia itu sebagai pendeta atau penginjil telah memisahkan kata hamba Tuhan menjadi hamba dan Tuhan , maka pada saat itu juga dia hanya tinggal menjadi ”hamba”. Bukan ”hamba Tuhan” lagi. Jemaat akan menilai ”hamba” yang seperti itu hanyalah sebagai seorang budak yang tidak punya harga diri, memalukan Gereja yang dilayani. Jemaat terkadang masih memaafkan dan memberikan kesempatan padanya untuk memperbaikan tingkah laku, tutur kata, ataupun mentalnya, namun jika suatu hari kedapatan masih tetap sama ”rusaknya” dengan orang yang belum percaya, maaf, jika memakai kata yang agak kasar, yaitu diusir (dikeluarkan) dari Gereja.

Pelayan Tuhan yaitu para pendeta atau penginjil, mendapatkan kehormatan, disegani sebab masih dipanggil sebagai ”hambanya Tuhan”, tetapi jika kata ini dipisahkan tinggallah kata hamba yang tidak dihormati. Namun Tuhannya tetap dihormati, tetapi dalam banyak kasus Tuhanpun menjadi tercemar karenanya.

Seperti hari ini banyak sekali orang yang menyebut dirinya sebagai hamba Tuhan yang suka melakukan hal-hal yang aneh-aneh, harus diakui para hamba Tuhan memiliki kesempatan yang dapat membuatnya lupa dirinya sebagai seorang ”hamba Tuhan”.


Terkadang kata yang seharusnya tidak diucapkan telah diucapkannya, sedangkan yang seharusnya diucapkan tidak diucapkannya pula, sehingga membuat orang bingung. Bukankah sering SMS digunakan secara salah? Memakai SMS dengan kata-kata yang seharusnya tidak diucapkan kepada isteri atau suami jemaat yang ”lemah” yang perlu konseling. Mengajak atau diajak berkencan. Demikian juga dengan perbuatan-perbuatan yang aneh-aneh, seperti orang yang tidak mengerti etiket saja, ada jemaat yang mengatakan apakah tidak diajar di STT, apakah tidak baca Alkitab. Kaum awam aja mengerti, masakan seorang hamba Tuhan tidak ngerti?


Coba bayangkan, suatu kali seseorang bertanya:”Pak, apakah orang Kristen boleh berdusta? Jelas, tidak boleh kan, selanjutnya dia bertanya, kalau orang yang berdusta boleh nggak memimpin Perjamuan Kudus?”

Kalau hamba yang taat, setia pada firman Tuhan, pastilah dia selalu akan belajar pada Tuannya yakni Yesus Kristus, mengerti akan misi kedatanganNya untuk apa, dan buat apa beribadah serta mengerti kepada siapa Dia melayani.


Para budak (hamba) di zaman Romawi pasti mengalami apa yang disebut jengkel, gondok, ditindas, haknya dikurangi, dijadikan kambing hitam, sasaran kemarahan dan sebagainya. Dan mereka tidak dapat berkata apapun untuk membela dirinya sebab mereka hanyalah seorang budak. Di zaman sekarang ini banyak hamba Tuhan juga mengalami hal yang sama, karena perbuatan dirinya atau karena segelintir pendahulunya, sehingga pada hari ini mengalami berbagai hal yang tidak menyenangkan dalam pelayanannya.


Apakah dalam pelayanan Tuhan Yesus juga mengalaminya hal-hal yang tidak menyenangkan ?? Padahal Tuhan Yesus tidak melakukan kesalahan, tetapi dibenci, disalahkan, diejek bahkan dibunuh, karena apa yang dilakukanNya telah membuat orang Yahudi iri hati, dan marah, sehingga timbullah hati tidak senang padaNya. Banyak orang mencoba memakai ayat ini sebagai penghiburan dan pembelaan diri, tapi ayat ini jangan disalah tafsirkan. ”Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu;”.

Kalau dianiaya karena nama Kristus, pujilah Tuhan, tetapi kalau diusir didepak dari kedudukan, karena kesalahan, jelas itu karena telah memisahkan kata hamba dari Tuhan. Hamba dianiaya adalah hal yang biasa, tetapi kalau hamba Tuhan dianiaya itu baru luar biasa, ini tentu berbeda kalau hamba Tuhan dianiaya karena kesalahannya sendiri.

Selanjutnya Tuhan Yesus berkata:”jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku”. Yoh. 15:20,21.Kalau seorang hamba yang setia, taat melakukan firman Tuhan, jelas hamba tersebut akan mendapatkan kehormatan dari Bapa Sorgawi.Yohanes 12:26 ”Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa”.


Pengajaran Tuhan Yesus mengenai hamba juga dapat dilihat Matius 20:26-28. ”Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”


Apa yang diajarkan Tuhan Yesus mengenai hamba yang melayani dalam ayat-ayat tersebut sudah sangat jelas. Orang yang ingin menjadi besar berarti harus melayani, kalau ingin menjadi terkemuka hendaklah ia menjadi hamba. Orang yang melayani atau yang menjadi hamba adalah pekerjaan seorang ”budak” seorang yang terjual atau sudah dijual sehingga dirinya sendiri tidak memiliki hak atas dirinya sendiri. Kalau hamba yang demikian lalu ingin menjadi besar dengan menggeser teman sepelayanannya apakah tuannya tidak akan menjadi marah?


Pelayan atau hamba Tuhan (Allah) adalah mereka yang telah ditebus dengan harga tunai oleh darah Yesus. (I Pet. 1:18-19) Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. I Kor 6:20;7:23 Paulus berkata:”Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! Dan I Kor 7:23. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia.


Penebusan yang diberikan Tuhan Yesus bukan dengan perak atau emas tetapi dengan darahNya dan harganya telah lunas dibayar olehNya diatas kayu salib. Karena itu Tuhan Yesus sangat mengharapkan agar orang-orang tebussanNya dapat memuliakan Allah dengan tubuhnya dan bukan menjadi hamba manusia tetapi seorang hamba Tuhan (Allah) yang memiliki ketaatan dan kesetiaan pada Tuhan yang disembah dan yang dilayaninya.


Beberapa waktu lalu sekolah-sekolah negeri atau swasta menjadi heboh, sebab menemukan hp yang berisi rekaman adegan dua anak manusia belia yang sedang melakukan hubungan intim. Durasinya tidak panjang, hanya 3 menit 20 sekian detik. Namun sekalipun durasinya pendek tapi dampaknya luar biasa sekali, anak-anak itu disoroti sebagai orang tidak punya moral, mental yang baik, memalukan, lalu dipecat.

Nah, kalau misalnya, hamba Tuhan melakukan hal yang sama dalam durasi yang 3 menit lalu ketahuan dan dikecam oleh gereja, teman-teman, itu adalah sangat wajar. Bukan tidak mau menolong, tetapi dirinya sendiripun akan malu dengan dirinya, lalu bagaimana meminta orang lain menolongnya? Bukankah banyak orang sangat merasa terganggu dengan perbuatannya? Dan siapa yang akan bangga dengan perbuatannya yang memalukan itu? Saat sadar pendosa tersebut berkata: ”tidak ada yang memperdulikan aku!” Orang yang telah ditebus dengan darah yang mahal yaitu darah Kristus, telah lupa akan karya Kristus diatas kayu salib.

Sebenarnya, bukankah ketika kuliah di Alma-Mater perbuatan itu sudah dipelajari sebagai dosa yang dibenci oleh Allah, lalu mengapa lupa dan jatuh kedalam lumpur dosa? Orang yang memisahkan kata hamba dengan Tuhannya, akan dibiarkan oleh Tuhannya. Saat itulah baru terasa betapa gelap dan tertutupnya dunia ini bagi kehidupannya.


Hamba yang melayani adalah seorang budak Tuhan, budak tersebut tidak diharapkan berpenyakit hanya pintar mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga, percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan. Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas orang-orang durhaka]. ( Matius 24:49; I Tim 6:4-5; Kolose 3:5-6)


Berbahagialah mereka yang menjadi hamba yang selalu ingat bahwa dirinya adalah seorang hamba Tuhan dan kata ini tidak boleh dipisahkan menjadi ”hamba” yang tidak ada kaitannya dengan ”Tuhan”. Melayani sebagai hamba Tuhan dengan setia dan taat pada Kebenaran Firman Tuhan adalah hal yang sangat penting di mata Tuhan Yesus.


(Ditulis oleh Pdt. Yusman Liong setelah membaca diskusi dan mendengar beberapa keluhan jemaat dari berbagai tempat.)

“Spiritualitas dan Integritas Hamba Tuhan”

Siapakah aku, pada saat seorang pun tidak melihat ku?[1]
Nats: Yer 8: 6a (4-7); Ibr 13: 9b

“Aku telah memperhatikan dan mendengarkan: mereka tidak berkata jujur” (Yer
8: 6a)

Pendahuluan:
Dari sejarah kejatuhan manusia ke dalam dosa nampak, bahwa manusia memiliki
kecenderungan untuk bersembunyi, “…ketika Tuhan Allah berjalan-jalan dalam
taman itu…bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap Tuhan Allah”
(Kej 3: 8). Sejak Adam dan Hawa kebutuhan manusia untuk “menyembunyikan
dirinya ini” merupakan bagian dari kehidupan umat manusia secara universal.

Dalam setiap bidang pekerjaan dan jabatan orang bertanya: “Dimanakah masih
ditemukan kepatutan, kelayakan, kejujuran dan keterbukaan?” Kita seringkali
berusaha untuk memakai kedok, apakah karena hati nurani kita merasa bersalah
atau disebabkan karena keangkuhan dan kebutuhan untuk diakui, sehingga kita
menampilkan diri kita yg bukan diri kita yg sesungguhnya.

Apakah itu dalam bidang ekonomi, politik atau dalam gereja? Apakah seseorang
menduduki suatu jabatan[2] dalam profesi atau institusi, kita harus kembali
mendengarkan seruan:”Bersikaplah jujur dan tunjukkanlah dirimu sebagaimana
kamu yg sesungguhnya!” Untuk ini dibutuhkan keberanian dan kita perlu
bertanya bukan saja ttg kecenderungan, tetapi juga karakter yg merupakan
bagian dari hidup kita.

Apakah karakter itu:”Karakter adalah motivasi batiniah untuk melakukan yg
benar, berapa pun harga yg harus dibayar. Setiap orang di muka bumi ini
memiliki kesempatan yg setara untuk membangun karakternya dng mengembangkan
kualitas-kualitas kejujuran, kesabaran, dan kesetiaan. Bila kita mengambil
keputusan sehari-hari berdasarkan kualitas-kualitas ini, Sdr akan memperoleh
manfaat yg praktis dan sekaligus kekal”[3]

Bagaimana kita bisa memiliki hidup yg asli dan sejati (integritas)?
Bagaimana dengan apa yg kita imani bisa meresap ke dalam hati dan memiliki
tangan dan kaki? Bagaimana pengetahuan kita bisa menjadi pengalaman?
Bukankah banyak yg kita pelajari, tetapi itu tetap tidak pernah menjadi
suatu bagian dari kehidupan pribadi kita yg nampak terasa?

Pernahkah Sdr memperhatikan seorang anak, bagaimana ia menunjukkan
kegembiraan atau kesusahannya, ia menunjukkan apa yg ia alami dalam
dunianya, ia alami dengan sepenuhnya dan tidak ditutup-tutupi. Bukankah
kerinduan untuk memiliki hidup yg otentik, ketulusan hati merupakan suatu
bagian yg sudah ada pada saat kita masih kecil? Apakah kita masih memiliki
iman yg spontan dan dinamis? Kapan kita terakhir menceritakan ttg pengalaman
kita bersama Tuhan, apakah dalam suka maupun duka?

1) Siapakah Sdr pada saat seorang pun tidak melihat Sdr?[4]
Ada pepatah mengatakan:”Ujian karakter yg sebenarnya bukanlah terletak pada
apa yg Anda lakukan di depan umum; tetapi pada apa yg Anda pikirkan ketika
Anda sendirian”[5]

Pertanyaan:”Siapakah Sdr pada saat Sdr sendirian” harus menantang kita
secara kritis, apakah kita sbg pekerja gereja purna waktu atau aktifis,
maupun anggota jemaat biasa. Terlalu mudah untuk hidup suci pada saat-saat
kita berbakti, berada di antara orang banyak dan di hadapan umum. Dan
bukanlah sesuatu yg mudah bersikap ramah dan menahan diri pada saat kita
berada ditengah-tengah keluarga dan bersikap jujur terhadap diri sendiri,
ketika seorang pun tidak melihat kita. Keaslian hidup kita menampakkan
dirinya terutama bukan di atas panggung, melainkan di dalam kehidupan
pribadi kita. Keasliaan kita nampak dalam ketersembunyian hidup kita.
“Pengaruh yg membentuk kehidupan kita adalah seperti gunung es: 10%
kelihatan 90% tidak kelihatan”[6]

“Pembuktian karakter sejati seseorang adalah apa yg akan dia lakukan
seandainya dia tahu bahwa dirinya tidak akan pernah ketahuan” (Baron Thomas
Babington Macaulay)

Mata kita lebih sering tertuju kepada orang banyak, kita harus bertanya
kepada diri kita sendiri:”Bagaimana hidup kita bersama dengan Yesus Kristus,
pada saat tidak seorang pun menjadi penonton? Apakah yg masih nampak atau
tertinggal? Apakah kita hanya berbicara ttg Alkitab dengan orang lain,
sementara kita sendiri tidak lagi membacanya untuk diri kita sendiri? Apakah
kita hanya berdoa dalam persekutuan dan ibadah bersama dan “hanya karena
pelayanan”? Ataukah Sdr juga sendiri berbicara secara pribadi dengan Tuhan
Yesus, Tuhan segala Tuhan, pada saat tidak seorang pun melihat kita?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidaklah harus membuat kita takut atau merasa hati
nurani kita bersalah. Pertanyaan-pertanyaan ini justru ingin memberikan
penjelasan dan ketegasan, apa yg merupakan sumber dari hidup kita ini.
Karena kita mudah tergoda untuk menampilkan diri yg bukan diri kita yg
sesungguhnya, bahkan cenderung mengelabui sesama kita dan diri kita sendiri,
oleh sebab itu kita membutuhkan klarifikasi. Jika keberadaan kita hanya
hidup dari pengakuan dan penerimaan orang lain terhadap kita, maka kita
tidak mungkin menunjukkan hidup yg. otentik, integral apakah itu bagi diri
kita sendiri atau untuk orang lain. “Yang menentukan dalam hidup pelayanan
kita bagaimana kita mengisi waktu-waktu teduh kita, ya justru pada saat
seorang pun tidak melihat kita”(Mt 6: 6:”Tetapi jika engkau berdoa, masuklah
ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yg ada di
tempat tersembunyi”), Adolf Koeberle[7] mencatat lebih lanjut:”Kita hanya
bisa memiliki pengaruh keluar sbg mana kita menampilkan keberadaan kita pada
saat menyendiri”

2) Pembentukan kejujuran melalui kebiasaan: Hanya pada air yang
tenang Allah meletakkan jangkarnya!

Reaksi kita pertama pada saat kita berbicara ttg saat teduh adalah kejenuhan
atau suatu proses rutinitas dari kaum Pietis dan Injili. Yang dimaksud
disini terlebih dahulu bukanlah mengenai “saat teduh”, sesuatu yg. sifatnya
kaku dan rutin, melainkan ttg istirahat, ‘break’ sesaat ditengah-tengah
kesibukan kita, contoh: Maz 46: 11 mengungkapkan apa yg. dimaksud dengan
“saat teduh ini” ada suatu kebiasaan yg kudus.

Pepatah mengatakan:

“Taburkanlah pemikiran Sdr akan menuai tindakan; taburkanlah tindakan, Sdr
akan menuai kebiasaan; taburkanlah kebiasaan akan menuai karakter;
taburkanlah karakter, anda akan menuai tujuan hidup” (Samuel Smiles)

“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!” Secara harafiah dapat kita
terjemahkan:”Berhentilah dan kenalilah, bahwa Akulah Allah!”

Saya kadang-kadang merasakan, bagaimana segala kegiatan rohani, ritual
gerejawi dan ibadah kita berjalan serba otomatis. Kerutinan dapat mematikan
dan menjerumuskan kita kepada pemikiran yg sia-sia dan tidak lagi memiliki
makna. Seringkali jika saya diminta untuk berdoa di hadapan umum, kata-kata
yg keluar begitu saja dengan sendirinya dari mulut saya tanpa berpikir
banyak atau keluar kata-kata yg “klisee”, “bahasa Kanaan”, kata-kata yg.
keluar dari “profesionalisme spiritual” yg. hampir tidak memiliki
penghayatan lagi. Seharusnya kita dapat mengatakan pada diri kita:”Stop dan
berdiam dirilah sejenak!” “Tenangkanlah dirimu!” “Pusatkanlah pikiranmu!”
Kadang-kadang Allah harus memaksa kita untuk berhenti, mungkin melalui
keletihan tubuh kita atau sakit penyakit, supaya jiwa kita sungguh-sungguh
dapat beristirahat sejenak. Justru pada saat itulah merupakan suatu awal
dari kesiapsediaan kita untuk memusatkan pikiran kita kepada sumber hidup
yg. sesungguhnya.

Dalam ketenangan Allah melalui Roh KudusNya menyatakan, siapakah kita
sesungguhnya. Apakah Sdr memiliki dan mengambil waktu untuk berhenti
sejenak? Apakah satu hari di awal tahun? Setengah hari di awal bulan? Satu
sampai dua jam di awal minggu? Mungkin setiap orang memiliki caranya yg
berbeda-beda (Perencanaan jadwal, ,time-out’: Liburan, retreat, minggu
tenang dst). Kedisiplinan rohani yg kita, dimana jiwa kita bisa “begitu
enteng sprt sebatang bulu, cair sprt air, tidak bersalah sprt seorang anak,
tanggap terhadap gerakkan kasih karunia sprt sebuah balon gas” – inilah
kedisiplinan: membiarkan diri digerakkan dan memberikan jawaban kepada kasih
karunia Allah. Kedisiplinan rohani merupakan aktifitas roh, tubuh dan jiwa.
Dari Allah sendiri kita bisa memperolehnya untuk melakukan apa yg kita dari
diri kita sendiri tidak dapat melakukannya”[8]

3) Pembentukan kejujuran melalui mendengar: Jika kita mendengar,
Allah berbicara

“Apakah Allah adalah Allah yg berbicara yg sekali-kali membisu – ataukah
bagi Sdr justru sebaliknya:”Apakah Allah bagi Sdr adalah Allah yg membisu
dan sekali-kali berbicara?”[9] Bagaimana pengalaman Sdr.? Bukankah kita
sbg, pekerja gereja, orang-orang Kristen berdiam diri untuk mendengarkan
suara Allah? Jarang sekali dalam keadaan yg sibuk kita bisa mendengarkan
suara Allah. Juga dalam hal ini Yesus menjadi teladan bagi kita. Dalam
pekerjaan dan pelayananNya selama kurang lebih tiga tahun, Yesus seringkali
mengambil waktuNya di pagi hari atau sepanjang malam Ia berdoa, sebelum Ia
memulai pekerjaanNya di antara orang banyak. Sebelum orang-orang ingin
“memakai” Dia. Apa yg Yesus lakukan?

Mk 1: 35:”Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, ia bangun dan pergi ke
luar. Ia pergi ke tempat yg sunyi dan berdoa di sana.”

Mk 6: 46:”…Ia pergi ke bukit untuk berdoa…”

Lk 6: 12:”Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan
semalam-malaman ia berdoa kepada Allah.” Apa yg terjadi? Yesus pernah
berkata:”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan
sesuatu dari diriNya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya;
sebab apa yg dikerjakan Bapa, itu juga yg dikerjakan Anak” (Yoh 5: 19).

Saya yakin, Yesus melihat Bapa dalam kesendirianNya. Ia membiarkan diriNya
dipenuhi oleh BapaNya, dengan demikian Ia mengetahui bagaimana Ia hidup dan
apa yg harus Ia lakukan, bdg Yoh 5: 30. Ketergantungan Yesus kepada Allah
BapaNya membuat Dia menjadi seorang yg merdeka. Dengan demikian Ia memiliki
kekuatan untuk tidak bergantung kepada apa yg diharapkan oleh orang-orang
dari diriNya. Keterikatan Yesus kepada kehendak BapaNya merupakan
kebebasanNya untuk mengambil keputusan yg akurat pada waktu yg tepat. Pada
suatu saat, ketika Ia baru saja keluar dari kesendirianNya, datanglah Petrus
sprt nya ia menyalahkan Tuhannya sambil berkata:”Semua orang mencari Engkau”,
tetapi Yesus menjawab:”Marilah kita pergi ke tempat lain…”, bdk. Mk 1:
35-37. Hanya orang yg hidup dari ketenangan bersama Allah ia dapat
mengambil keputusan sprt itu.

Berdiam diri bagi Yesus berarti mengenal kehendak BapaNya, Yoh 4: 34:”MakananKu
ialah melakukan kehendak Dia yg mengutus Aku dan menyelesaikan
pekerjaanNya.”

Hidup otentik tidak bisa terlepas dari hidup yg bersumber dari kehadiran
Allah dalam hidup kita. Bagaimana hubungan suami-istri bisa hancur? Karena
tidak adanya komunikasi (salah satu penyebab utama) atau hubungan lagi satu
dengan yg lain. Iman adalah relasi dan bukan terutama keyakinan akan
kebenaran-kebenaran doktrinal.[10]

4) Kejujuran terbukti dalam keseharian: Harus ada jembatan antara
berdiam diri dengan kehidupan sehari-hari

Kita harus mengatakannya dengan terbuka, bahwa berdiam diri di hadapan Allah
secara pribadi belumlah mengatakan segala-galanya ttg apa yg kita peroleh
dan manfaatnya. Kehidupan kita sehari-hari tidak terlepas dari pekerjaan,
hektik dan ketegangan. Hal-hal inilah yg memenuhi kehidupan kita sehari-hari
dan itulah yg merupakan kenyataan dari kehidupan manusia pada umumnya.
Tetapi bagaimana kita bisa memperoleh keseimbangan dlm menghadapi keseharian
dng kehidupan pribadi kita?

Sudah pepatah kuno mengatakan, bahwa perubahan yg terjadi dlm hidup ini
terjadi dari dalam hati dan memancar keluar dirasakan oleh lingkungan, dunia
kita. “Bila ada kebenaran dalam hati, akan ada keindahan dalam karakter,
bila ada keindahan dalam karakter, akan ada keharmonisan dalam keluarga,
bila ada keharmonisan dalam keluarga, akan ada ketertiban dalam bangsa, bila
ada ketertiban di dalam bangsa, akan ada kedamaian di dalam dunia”(Pepatah
Tionghoa).

Bagaimana kita menemukan jembatan di antara saat menyendiri dan keseharian
kita? Mungkin dapat menolong kita, apa yg menjadi renungan kita pada pagi
hari, dapat kita bawa ketengah-tengah kerutinan hidup kita. Mungkin saja
satu ayat yg telah kita baca pada pagi hari, kita berusaha untuk
mengingatnya kembali atau menuliskannya di atas secarik kertas, kartu, tel
genggam dan mungkin bisa mengirimkannya kepada sesama saudara seiman via
SMS/e-mail, supaya kita dapat selalu kembali membaca dan mengingatnya:

“…dan yg merenungkan (bisa diterjemahkan:”mengunyahnya kembali”, “memamah
biak”) Taurat itu siang dan malam” Maz 1: 2b.

Yang saya kagumi, bagaimana Paulus dalam kehidupannya memperhitungkan
dunianya bukan saja melalui apa yg ia lihat, melainkan dunia yg tidak
kelihatan, dalam 2 Kor 4: 18 tertulis:”Sebab kami tidak memperhatikan yg
kelihatan, karena yg kelihatan adalah sementara, sedangkan yg tak kelihatan
adalah kekal.” Paulus adalah seorang yg sangat realistis, terutama dalam hal
iman kepercayaannya. Lihat biografi dari Pls! (Surat Filipi). Setiap saat
Pls memperhitungkan untuk hidup dihadapan Allah dan bersama dengan Allah yg
Hidup, 1.Tim 5: 21:”Dihadapan Allah dan Kristus Yesus dan malaikat-malaikat
pilihanNya kupesankan dengan sungguh kepadamu: Camkanlah petunjuk ini tanpa
prasangka dan bertindaklah dalam segala sesuatu tanpa memihak” Ef 6:12:”Karena
perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan
pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu
dunia yg gelap ini dan melawan roh-roh jahat di udara.”

Dunia yg nampak bagi Pls. bukankah merupakan dunia akhirat yg berada
dibalik semua kenyataan hidupnya, tetapi keduanya saling merangkul. Salah
satu kunci keotentikan dari kehidupan kerohanian kita adalah kehidupan
sehari-hari kita yg berada dlm iman. Hidup yg merupakan suatu kesatuan yg
utuh dan bukan merupakan suatu pemikiran yg terpilah antara yg rohani dan
jasmani. Kita tidak bisa membatasi kenyataan atau kehadiran Allah pada
jam-jam tertentu atau hari-hari tertentu saja. Bukankah Allah kita maha
hadir? “Kemana aku dapat pergi menjauhi rohMu, kemana aku dapat lari dari
hadapanMu? …jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di
ujung laut, juga di sana tanganMu akan menuntun aku…” (Maz 139: 7-12).

Apakah kita berada di antara orang banyak atau dalam kesendirian, secara
terbuka atau pribadi: Allah selalu ada. Jika kita mengerti akan hal ini,
maka kita akan hidup lebih sadar, serasi dan sejati, sehingga kekristenan
kita seimbang dan harmonis dalam memiliki kekudusan yang wajar dan kewajaran
yang kudus.

5) Kejujuran di hadapan masyarakat: Seorang Kristen tidak dapat
dipisahkan dari perannya dalam masyarakat

Rumusan “karakter”:(Yun “karakter”: “menyerut, memotong, mengukir”)
Berkenaan ttg kualitas-kualitas yg menonjol, istimewa, atau baik;
kualitas-kualitas yg dihargai dan dihormati; dan kualitas-kualitas yg ada di
dlm diri seseorang menurut penilaian umum” (Kamus Webster 1828). « Mustahil
menulis persoalan besar tanpa hidup dalam persoalan besar, menjadi pemimpin
yang agung tanpa menjadi manusia agung. Manusia harus menemukan dalam
dirinya sendiri rasa tanggung jawab yang besar terhadap dunia, yang berarti
tanggung jawab yang besar terhadap sesuatu yang lebih besar dari dirinya
sendiri » (Vaclav Havel).

Jika kita menelusuri pengalaman orang-orang beriman dalam Alkitab, mereka
tidak merasa malu mengakui keyakinan dan kepercayaan mereka. Mereka
berbicara ttg hidup mereka bersama Yesus dan bagaimana Yesus memiliki peran
yg utama dalam hidupnya. Lukas menulis dalam Injil Lk dan Kis Ras.:
Kekristenan selalu memiliki karakter sosial dan ramah bermasyarakat.
Disamping penganiayaan yg sidang jemaat alami ada orang-orang yg menghargai
kehadiran mereka:”…dan mereka disukai semua orang”, Kis Ras 2: 47).
Bagaimana tanggung jawab sosial kita di negeri kita tercinta Indonesia? Kita
sbg orang-orang Kristen masih terlalu sedikit melakukannya!

Dalam Alkitab banyak dibicarakan ttg pengakuan dosa dan kelemahan, yg
diungkapkan dan diakui secara terbuka, hal ini justru menunjukkan, betapa
mereka berani terbuka dan transparan untuk membicarakannya. Apa kaitannya
dengan kehidupan kita yg otentik? Jika proses pertumbuhan rohani kita tetap
tersembunyi atau disembunyikan tidak berani mengatakan kepada yg lain, maka
kita cepat atau lambat akan hidup dalam kontradiksi. Sesuatu yg tersembunyi
atau disembunyikan itu, suatu saat akan cenderung menjauhkan kita dari
kenyataan kehidupan manusia yg sesungguhnya, bahkan kita akan kehilangan
realita kehidupan yg seutuhnya, contoh: Zakheus, Semua orang mengetahui akan
pertobatannya, juga konsekuensi logisnya tidak tersembunyi: “Tuhan setengah
dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yg
kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat” bdk. Lk 19: 8.

Mungkin kita telah lama melayani Tuhan Yesus, tetapi orang-orang di sekitar
kita belum pernah merasakan kehadiran kita sbg orang yang dekat dng
Yesus[11] Jika kita kembali memulai untuk menyatakan kehidupan kristiani
dengan transparan dan terbuka, maka hampir selalu ada sesuatu gerakkan yg
terjadi. Biarkan dunia sekitar kita kembali merasakan, kita sbg “garam dan
terang dunia” dan mereka boleh mengetahui kita adalah orang-orang yg hidup
di bawah kasih karunia dan pengampunan dari Allah, 1. Yoh 1: 7.

6) Kejujuran terbentuk di dlm persekutuan: Persekutuan orang-orang
beriman yang memperoleh kasih karunia

Saya yakin, kita semua memulai iman kita dengan kasih karunia, anugerah
Allah, ya, bahkan hanya melalui anugerah, tetapi tidak sedikit dari kita
hari demi hari, semakin lama kita mengenal hidup di antara orang-orang
Kristen, semakin besar pula bahaya kita untuk hidup dari kekuatan sendiri
‘bermoral lebih baik dari pada yg lain’. Kita mengaminkan, bahwa kita
diselamatkan, dibenarkan melalui iman oleh anugerah Allah, tetapi
menguduskan diri melalui pekerjaan dan usaha kemampuan diri sendiri.
(merupakan suatu bahaya rohani)

Justru dalam hal ini persekutuan di antara orang-orang beriman memiliki
peran yg penting. Persekutuan dari orang-orang beriman merupakan suatu
“oase” dan sekaligus “korektor” yg peduli akan arah jalan kehidupan pribadi
kita. Persekutuan orang-orang beriman kepada Yesus Kristus harus merupakan
suatu pemerhati, dimana firman Tuhan harus membentuk hidup kita, dimana kita
bisa saling terbuka dan menceritakan pengalaman kita. Untuk itu diperlukan
kejujuran dan keberanian! Bukankah merupakan sesuatu yg indah, jika tua
dan muda bisa hidup berdampingan, dimana setiap orang tidak perlu merasa
takut, terbuka terhadap satu dengan yg. lain dan saling mendoakan dan
memberkati. Bukankah dengan demikian anugerah Allah itu semakin berlimpah,
dan sungguh-sungguh hati kita kembali dikuatkan bukan melalui ritual
religius kita, melainkan melalui kasih karunia (Ibr 13: 9b).

“Bukan orang sehat yg. memerlukan tabib, tetapi orang sakit” (Mt 9: 12).
Persekutuan merupakan tempat orang-orang berdosa yg. mengetahui dan
mengalami apa itu pengampunan. Persekutuan adalah tempat pengampunan.
Walaupun kita saling mempercayai satu dengan yg lain, kita tidak luput dari
perkataan yg dapat melukai satu sama lain. Kita akan selalu mencoba untuk
menjadi pusat perhatian. Kita tidak bisa menghindari diri dari melukai dan
dilukai. Kita akan selalu kembali berada dalam suatu situasi, dimana
seseorang terluka karena perkataan kita. Oleh sebab itu persekutuan tidak
terlepas dari sesuatu yg disebut “salib” yg membutuhkan usaha yg
terus-menerus untuk saling menerima satu dengan yg lain dan setiap hari baru
untuk saling mengampuni. Jika kita memasuki suatu persekutuan, tanpa mau
belajar untuk saling mengampuni dan saling mengampuni 70×7, maka kita akan
sangat dikecewakan.[12]

Mungkin semua ini bagi Sdr bukanlah sesuatu yg baru dan Sdr. sudah
mengetahuinya. Tetapi justru disinilah letak permasalahannya: Kita
mengetahuinya, tetapi seringkali kita tidak hidup seturut atau jauh dari apa
yang kita ketahui. Mungkin perkataan dari Nouwen ttg hal ini bisa menolong
kita, “Dua hal yang harus Sdr pegang teguh. Yang I:”Allah telah berjanji,
bahwa kamu akan mengalami kasihNya, setelah engkau mencariNya. Dan yang II:
Allah tetap setia akan janjiNya.”[13]

Saya yakin kita tidak bisa melakukannya dengan instan, tetapi tetap sprt yg
Yesus katakan:
“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat;
ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang
mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.
Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta
ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada
anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik
kepada mereka yang meminta kepadaNya” (Mt 7: 7-11).

Refleksi Pribadi: Mitra Allah Yang Otentik

1) Adakah dalam hidup Sdr/i sesuatu yang perlu Sdr/i bukakan dan
mengijinkan Yesus Kristus untuk menjamah dan memulihkannya.

2) Apakah Sdr/i mempunyai seorang yang Sdr/i dapat percayai yang
kepadanya Sdr/i bisa terbuka dan terutama bisa berdoa bersama-sama dengan
Sdr/i?

3) Langkah-langkah apa yang kongkrit yang Sdr/i dapat lakukan setelah
mengikuti sesi ini?

4) Pokok doa apa yang Sdr/i ingin katakan kepada Tuhan Yesus saat ini?
Ambillah waktu sejenak untuk berdoa!

Catatan Kaki

[1]Bdk. Bill Hybels, Honest to God, John Stott, Authentic Christianity dalam
Peter Strauch, Majalah Aufatmen, Ed. 3/98, Cuxhaven, 1989, 15-19.

2″Fit and Proper” = kepatutan dan kelayakan à “dipandang” dan dijadikan
tumpuan harapan banyak orang akan hadirnya pejabat yg dipercaya, punya
komitmen, serta kompeten mengemban tugasnya.” (Lihat Kompas, tgl 24.11.’07).

[3] bdg The Power for True Success, Institute in Basic Life Principles, hal
10.
[4]Ibid. Peter Strauch, 15.
[5]Bdk. Edwin Louis Cole, Maximized Manhood, 147.
[6]Ibid. Edwin Louis Cole, 38.
[7]Ibid. Peter Strauch, 17.
[8] « Leicht wie eine Feder », Jean Pierre de Coussard dlm majalah Aufatmen,
Nr 2/1998, R. Foster
[9] Astrid Eichler, “Der eingesperrte Gott”, Majalah Aufatmen Nr. 3/98, 38.
[10] Teologi merupakan suatu’ habitus practicus’, suatu pengajaran yg
mengacu (harus menuju) kepada suatu praktek iman dan kehidupan , dikutip
dari, “Umkehr in die Zukunft – Reformprogramm des Pietismus,” Brunnen
Verlag, 1975, hal 69.

[11] Gregor Nazian:”Oration Basillii erat tonitru, quia vita ejus fulgur –
Perkataan dan pengajaran Basillii memiliki (kuasa, kekuatan) sprt gemuruh,
karena hidupnya bagaikan halilintar , Ibid, 1975, hal 68.

[12] Jean Vanier, In Gemeinschaft Leben, R. Brockhaus Verlag Wuppertal,
1993, 59.

[13] Henri J.M. Nouwen, Die innere Stimme der Liebe, Herder Verlag, 5.
Aufl., 1998, 27.



  • seniwati: TETAP SEMANGAT ......
  • seniwati: SELAMAT YA PAK... KASIH DAN HIKMAT TUHAN MENYERTAI SENANTIASA SORI BARU TAHU... NIH...
  • yayah Ishak: puji Tuhan sekarang saya dapat informasi almamater dan seputar melalui milis ini. thanks